terima kasih,
untuk selalu menjagaku dari kebencian
pun kemarahan,
aku tahu
akan senantiasa menyakitkan
untuk selalu mempertahankan keduanya
di sini
di diri.
terima kasih,
Gusti Allah....
(di sepotong malam yang berlalu lewat bincang dengan para kawan dekat)
ketika putaran waktu mampat di benakmu,
di mana matahari bersemayam?
gondomanan, 31 oct 2007, 02.45
you are just too perfect,
and i just stay watching you
from my window corner.
silently.
far in distance.
through this blurry glassy material next to me,
i try to gain every single moment
when you splash your smile around,
though even i cannot
really embrace your voice.
.
.
and days,
are running as silent as the sun shining,
but still the warm gleam against my skin
is touching though never does lit any flame.
wish it won't ever.
wish this never goes further.
.
this window corner
would be the closest witness of mine,
wrapping all these wishful whispers from my mind,
to you, through the wind.
.
this window corner, my sheltering transparent masquerade.
do you really see back to my face, sometimes?
some night after seeing you in red - (DB, wish you becoming the window corner)
Ini hanya sebuah kilasan cerita dari sebuah perjalanan. Kami bersepuluh (saya, Kua, Gor, Mare, Mar, Dan, Put, Bas,Got, Ahm dan mas Am) menyisakan sebuah kesempatan untuk menikmati berberapa hari bersama-sama.
Persinggahan awal di Malang
Diawali dari Malang,Kota terbesar kedua di Jawa Timur ini ternyata sangat ‘anggun’. Jalanan yang ramah, iklim yang bersahabat, bernuansa historis. Di banyak sisi,Malang mengingatkan saya pada Bandung. Suasana sejuk perbukitan, jalan-jalan yang naik turun di antara pepohonan hutan, kesenyapan daerah pedesaan.Keramahan alam ini menyambut kami, sebelum akhirnya kami memasuki kota.
Usai mandi dan menyelonjorkan pinggang sejenak, saya, Put, Gor, Bas, Kua, Mar dan Dan jalan-jalan di sekitar hotel. Siapa sangka ada penjual tahu goreng tepat di depan hotel sore itu !! Tahu-tahu itu begitu menggoda, dengan aroma yang ditebar ketika dia masih berkubang minyak panas di atas kompor. Haruuumm. Dede segera mengajakku menghampiri. Tentu saja saya mau !! J
Sambil nggembol tahu dan gorengan yang dilengkapi petis, kami melanjutkan jalan-jalan. Beberapa langkah kemudian,di sudut sebuah pertigaan, ada pedagang baso malang
Selepas maghrib, semua tim siap dengan jadwal berikutnya.Seperti termaktub dalam lembar Itenerary yang disiapkan Indah, kami dijadwalkan makan malam.
Makan malam di toko ‘OEN’
Dalam itenerary disebutkan (seinget saya)’makan malam dengan suasana zaman Belanda’. Yang saya bayangkan memang sebuah tempat makan, bergedung zaman kumpeni. Malam itu kami full-team mengambil satu meja.
Melangkah ke pintu masuk, tampak seorang berwajah ‘kumpeni’ duduk sendiri dengan meja bulat di hadapannya. Satu botol bir menemaninya. Mungkin ini fase no. 1 menuju suasana zaman Belanda.
Kami langsung menentukan meja. Sebuah meja besar dengan jumlah kursi yang bisa memadai buat tim kami. Muncul seorang karyawan dengan setelan kemeja putih lengan panjang, bercelana panjang warna hitam, dan semua kancing baju tertutup rapat. Tepat di sudutku, dia menghampiri kami.
‘Mbak, maaf, nulis sendiri saja,ya, pesanannya.Kami hanya berdua, dan tamunya banyak.’
Sebentar saya berpandangan dengan Jude sebelum akhirnya saya jawab ‘ok, mas’. Buku menu pun di bagikan satu per satu. Di sampul buku menu ada tulisan ‘Toko Oen, The Colonial Restaurant since 1930’. Jadi ini restoran kolonial, pikir saya. :D Fase no.2 menuju suasana zaman Belanda. Bangunan restoran ini adalah sebuah rumah peninggalan jaman Belanda. Kursi-kursinya pun berdetail bentuk khasa jaman Belanda. Waktu kecil,saya inget, ruang tengah di rumah Ponorogo pernah memakai kursi rotan berkerangka besi itu untuk kursi tamu.
Dengan lapar yang kian mengganas, semua segera menekuni buku menu.
Ahm yang sedang membuka-buka menu bertanya ke saya “What’s the special menu from this restaurant?’, dan saya bilang kalo saya kurang tahu karena ini kunjungan pertama. Dia berkata ‘I want Rawon’, dan ketika saya cek tidak ada rawon di daftar menu.’Which one is Indonesian food? ‘sambungnya. Saya buka-buka buku menu lagi, dan saya menemukan tulisan ‘Indonesian Food’. Saya tunjukkan halaman Indonesian Food ke Ahm sambil saya jawab, ‘This page is Indonesian Food, the rest is something colonial’, dan kami tertawa. Fase no. 3, menuju zaman kolonial.
Kemudian iseng saya tanya Ahm apakah dia sudah bersiap-siap untuk perjalanan malam itu. Dia tampak kaget,’What?Tonight? ‘tanyanya meyakinkan.’Yes. You can check it in the itenerary.Put has it. We will go tonight at 12.’ Ahm langsung kebingungan mencari lembar itenerary sambil tertawa kecut. Saya hanya ikut tertawa.
Lewat 30 menit, belum ada tanda-tanda pesanan kami muncul dari dapur. Sambil menunggu, kami sibuk melihat-lihat ke bagian kue kering. Gor mendekati saya dan bilang ‘Mbak, kue ini pasti enaknya ra karu-karuan.’sambil menunjuk ke setoples kue kering warna coklat. Mata saya terbelalak segera.58,000 buat setoples kue kering. Saya dan Gor bergeser, dan lebih shocked lagi begitu menemukan setoples nastar seharga 75,000. Huaa…apakah mereka menyampurnya dengan bubuk emaaas??!!! Fase no. 4?
1 jam lewat, dan makanan belum tampak dilayankan.
Ketika kembali ke meja, wajah Ahm sudah sangat lesu kelaparan. Tapi, seperti biasa, dia selalu tersenyum simpul. Sambil melirik judul buku menu di hadapan kami, dia bertanya pelan ‘Does this restaurant have only two waiters since 1930?’dan spontan kami tertawa. Inikah fase no.5?
Setelah menunggu sampai nyaris 2 jam, akhirnya, satu per satu pesanan muncul. Di tengah suasana makan, seorang pramusaji mendekati meja kami. Lagi, melalui sudut saya, dia bilang,”Mbak, maaf, boleh saya ambil buku menunya, soalnya yang lain juga butuh’,. Saya bengong. Mar segera menjawab’ya, silakan, Mas. Masa kita yang harus mengepaknya’. Hmm… Fase no.6 kah?
Tanpa menunggu sampai setengah jam, semua makanan ludes tersantap. Tak lama kemudian, kami berangkat pulang.
Makan malam di restoran bernuansa zaman Belanda: perlu perjuangan dan kesabaran untuk memperoleh makanan, membeli kue sama beratnya dengan meraih kemerdekaan. Tapi, masih untung, sehabis makan tidak disuruh jadi kerja rodi. :D Dan kami tak butuh fase ini saya rasa… ;)
Perjalanan tengah wengi
Ternyata alarm tak mampu membangunkan saya pada waktu yang saya harapkan. Pukul 12.30 malam dijadwalkan meninggalkan hotel. Manusia-manusia yang satu kamar dengan saya baru bangun sekitar pukul 11.30. Dengan mata yang masih berat, kami bergiliran keluar masuk kamar mandi. Karena dingin, saya putuskan cuci muka dan sikat gigi saja. Hehehe… Jadi bisa meninggalkan kamar sedikit lebih duluan.
Di teras, ternyata Ahm sudah lebih dulu siap. Asap rokoknya tengah mengepul di depan hidungnya, ketika saya hampiri dia.
Pukul 12.10 kami berangkat, menuju McD. Sampai di halaman waralaba amerika ini mobil kami langsung mengambil arah ke Drive Thru. Di depan jendela, kami menyebutkan masing-masing pesanan. Beberapa pesanan sedang ‘kosong’, dan terpaksa diganti pesanan yang lain. Beberapa menit kemudian, pesanan tidak juga muncul.Seorang karyawan meminta kami memarkir mobil. Selintas beberapa dari kami mendengus kesal. Put memutuskan turun dari mobil dan langsung masuk ke gedung waralaba.
Kurang lebih 40 menit menunggu, Put keluar dari restoran. Beberapa kopi tumpah dan membasahi gula sachet di dalamnya. Sambil membagi pesanan dia bercerita tentang perdebatannya dengan si petugas waralaba. Dia menyampaikan seharusnya di situ bukan ditulis ‘Drive Thru’ tapi ditulis ‘Drive and Wait’, karena service yang terlalu lama, dan pesanan tidak langsung diperoleh di depan jendela pelayanan.
Gor yang duduk paling belakang juga ikut berkomentar,’Ini kopi rasanya campur teh ngga karu-karuan, ya..’Hihihihi…
Saya langsung melahap pesanan saya. Kopi saya terlalu panas untuk langsung ditenggak. Akhirnya cukup saya taburkan gula, dan saya biarkan di sebelah jok. Begitu habis makanan di tangan saya, saya mengatur sandaran kursi untuk posisi tidur. Masih sekitar tiga jam lagi untuk sampai ke tujuan berikutnya, Bromo. Cukup untuk melanjutkan mimpi.Zzz..
Sampai di lereng Bromo
Jalan yang berkelok-kelok, dan sesekali suara mobil menderam karena gas ditancap sedikit lebih keras, membangunkan saya. Di luar jendela mobil tampak remang-remang. Hanya lampu mobil penerangan yang membantu pandangan.Bas ternyata juga sudah bangun. Di berbisik-bisik ke arah Gor. Dia sedikit deg-degan dengan jalan yang menanjak dan berbelok-belok. Saya ikut berdebar-debar, tapi kantuk saya masih cukup berat. Hanya sesekali saya buka mata.
Di dekat sebuah pertigaan, mobil berhenti. Mas Am yang menyetir mobil memanggil Put, bertanya di mana pastinya lokasi yang mau dituju. Put yang sepertinya juga tertidur menjawab dengan sedikit geragapan. Dia agak kebingungan karena di luar gelap sekali. Seteleh berdiskusi sebentar, diputuskan untuk berbalik arah. Tepat di ujung pertigaan, mobil berhenti lagi. Kami mencoba mencari seseorang dari daerah tersebut untuk bisa bertanya.
Saya lihat Ahm keluar dari mobil. Dia berjalan ke arah pepohonan. Dia masuk ke kegelapan bayangan pohon. Sebentar, kemudian keluar lagi, sembari merapikan jaketnya.
Dari arah bawah, sebuah mobil pibk-up dengan sebuah tanki air plastik di atasnya tengah bergerak menuju ke arah kami. Mas Am berdiri agak ke tengah jalan dan melambaikan tangannya, meminta si penyetir mobil berhenti sejenak.
Begitu mobil pick-up berhenti, Mas Am berbicara sebentar. Beberapa menit kemudian, mobil pick-up berlalu.
‘Kita menunggu mobil itu. Begitu dia kembali, kita ikuti dia.’demikian informasi yang disampaikan.
Kami menunggu. Saya sandarkan kepala dengan malas. Berharap perjalanan masih agak lama, setidaknya cukup untuk menuntaskan kantuk.
Mobil pick-up itu muncul lagi tak lama kemudian. Dia bergerak jauh lebih lincah dari minibus kami. Setelah melalui beberapa kelokan dan tanjakan, kami sampai ke sebuha lapangan parkir. Penyetir pick-up turun dan menjelaskan bahwa kami perlu melanjutkan perjalanan sedikit lagi, lurus. Tangannya menunjuk ke arah yang perlu kami tuju. Beberapa pedagang sarung tangan dan syal mendekat ke jendela dan menawarkan dagangan. Pelan saya mengisyaratkan tidak membeli.
Sampai di loket, Put turun. Dia menyelesaikan pembayaran tiket masuk. Got, Dan, dan Mare menuju toilet. Saya dan Gor ikut nimbrung. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, diputuskan untuk menyewa 2 mobil jeep. Setelah sebentar tawar menawar, kami memperoleh sedikit potongan harga.
Sambil menunggu kedatangan mobil yang kami pesan, kami menuju toko yang menyediakan syal-syal tebal, tutup kepala dan sarung tangan.Ann memilih warna merah maroon dan sebuah tudung kepala garis-garis. Dengan stelan baru yang dipakainya,dia tampak benar-benar ‘bule’ ketika winter. Kua juga tampak imut dengan tudung yang dipakainya. Kemudian saya temukan Bas masih sibuk memilih-milih warna. Saya tawarkan warna merah ke dia. Dia menggeleng. Dia sibuk membanding-bandingkan warna syal dengan sweater dan celananya.
‘Kok, kamu repot banget, sih, dengan warna syal?’tanya saya sedikit nggumun karena dia sulit banget menentukan warna syal.
‘Ya, harus. Nanti kalo dipoto biar matching. Nanti kan
Akhirnya Bas memilih warna coklat tua untuk syalnya. Kami keluar dari toko. Ahm sedang memperhatikan kami semua, melihat satu persatu stelan musim dingin kami. Dia sendiri tidak memakai jaket yang terallau tebal, dan komentarnya ke Kua dan Mar,’Hey, this is still in tropical country’. Komentar senada juga disampaikan Got.
Jeep yang kami tunggu akhirnya muncul. Saya ingat saya masih punya segelas kopi dari McD yang belum saya minum. Sebentar saya masuk ke mobil kami, saya ambil kopi yang masih rapi tertutup. Segera saya teguk habis.
Selesai menghabiskan kopi, saya berlari menuju jeep. Saya ambil jok depan, berteman tas punggung teman-teman. Tapi, saya merasakan kopi yang saya minum bereaksi pada jantung saya. Degupnya sedikit lebih keras, dan nafas saya sedikit agak berat. Tapi tidak begitu saya pedulikan.
Mencapai Pananjakan
Melanjutkan menyusuri kelokan dan tanjakan jalanan dengan jeep terasa lebih ringan. Masih dengan kantuk yang belum sepenuhnya hilang, kami mengejar matahari terbit di gardu pandang di Pananjakan.
Pengunjung meruah. Mobil terpaksa diparkir agak jauh. Di kegelapan kami semua turun dari mobil. Begitu pintu mobil terbuka, sontak angin gunung yang menggigilkan menyerbu. Buru-buru saya rogoh saku jaket saya, mencari sarung tangan. Agak menyesal saya hanya memakai baju dua lapis. Satu kaus dan satu jaket tipis. Syal saya pun kurang begitu tebal. Beruntung saya sudah mengenakan kaus kaki. Badan saya menggigil lumayan hebat. Saya rangkul tangan Bas untuk sekedar membantu menambah hangat. Ternyata Bas juga tak kalah kencang gigilnya.Kami berjalan mengaitkan tangan satu sama lain.
Kami berjalan menyusuri jalan yang sedikit menanjak dan gulita. Di tengah sebuah jembatan yang menanjak, kepalaku terasa kliyeng-kliyeng. Nafas mulai memberat. Pelipis terasa berdenyut-denyut. Dalam hati saya mengumpat kopi dari McD. Saya langsung ingat teman kerja saya di Banda Aceh pernah bilang,’After drinking a cup of coffee, you have to drink two cups of water afterwards. Otherwise, the coffee becomes poisonous towards your body’. Saya tarik tubuh Bas sedikit lebih dekat.Pelan saya bicara pada Bas, minta air. Segera Bas merogoh isi tasnya, dan mengeluarkan sebotol air mineral.saya lepaskan tangan saya dari rombongan. Kaki saya terasa lemas.
Tanpa pikir panjang, saya langsung duduk di tempat. Beberapa kali orang menubruk tanpa sengaja. Saya nyalakan senter kecil di hape untuk memberi tanda ke orang-orang.Saya buka botol air sedikit tergesa. Keringat dingin sudah mulai bermunculan. Tegukan pertama terasa sejuk sekali di dada. Segera saya lanjutkan dengan menghabiskan sisanya. Saya sandarkan punggung dan kepala sejenak ke dinding semen di belakang saya. Terasa dingin. Tanda batere nyaris habis berkedip-kedip di hape. Saya telepon Bas. Ternyata rombongan sudah sampai tujuan. Saya tarik nafas dalam-dalam.Begitu, denyut jantung sudah mulai normal, saya berdiri dan melanjutkan jalan.
Berebut celah di pagar
Tak sampai lima
Saya merasa beruntung. Sebuah celah di pagar masih tersisa. Saya langsung duduk dan mengatur nafas. Ransel berisi kamera saya peluk. Dingin banget.
Saya tengok ke arah luar pagar. Masih sangat gelap. Beberapa orang berusaha merangsek ke jajaran di pagar. Badan saya sedikit terdorong. Saya pegang erat-erat pipa galvanised yang di tanam di pilar pagar.Orang-orang ini tidak mikir bahwa mereka bisa membahayakan nyawa orang lain, pikir saya.
Saya putuskan untuk berdiri di atas pagar. Dengan begitu, akan lebih sedikit space yang yang butuhkan di jajaran pagar. Saya lilitkan sebelah kaki ke pipa, sehingga membantu saya mengunci tubuh saya pada pagar. Ini memudahkan saya untuk memotret dengan dua tangan.
Ternyata matahari terbit masih lama.
Masih dengan badan melilit pagar, saya ambil hape saya. Saya telpon nama di urutan pertama phonebook saya. Dua kali nada panggil, dan sebuah suara menjawab telepon saya. Dia bersuara bangun tidur. Sambil tertawa saya bilang, ‘hey, bangun tidur,ya. Saya lagi di Pananjakan. Nunggu matahari terbit di Bromo.’ Dia langsung berteriak, ‘pengeen,’’.
Obrolan kami saya putus, Sebuah serudukan dari arah belakan pinggang saya hampir menjatuhkan hape di genggapam saya. Saya sempat mau mengomel, tapi akhirnya hanya saya pandang lekat-lekat mata orang yang berusaha merangsek ke posisi di sebelah kanan saya. Dengan cahaya langit menuju pagi, saya lihat bahwa dia berambut pirang.
Tepat sebelah kiri saya berdiri adalah sebuah pilar pagar. Seorang laki-laki berusaha mendakinya, untuk menempatkan handycam di atasnya. Duh…
Setelah lebih satu jam menunggu, langit mulai menjingga. Orang-orang sibuk jeprat-jepret. Ketika langit sudah mulai terang, tapi matahari belum muncul, tiba-tiba angin berehembus dan ….segerombolan awan berarak-arak menghalangi pandangn. Hiyaaaaa… Saya terbahak sendiri menyaksikan ini. Mentertawakan diri sendiri. Mengingat keajaiaban yang saya tunggu-tunggu. Yaah.. apa boleh buat.
Saya sibukkan diri mengambil gambar Gunung Batok yang terpapar di depan mata.sesekali saya ambil poto saya sendiri. Hihihi… Dan untungnya, Semeru membagikan pemandangan indahnya. Gumpalan asap biru kehitaman itu bergumpal-gumpal di atasnya.Wow… saya langsung pencet berkali-kali tombol shutter.Ini keajaiban yang tidak saya sangka sebelumnya. God,extremely beautiful!!
Eeeeehh…. Tiba-tiba saya merasa pantat saya didorong orang agak keras. Untung si Dety terkait ke leher saya. Huh.. (Dety adalah nama kamera saya:D). Langsung saya putar kepala saya ke belakang. Rambut pirang yang lain. Berbicara dalam bahasanya Napoleon Bonaparte dengan si prang yang pertama. Hmmh…
Ketika hari sudah makin terang, semua tim saling memotret.Pesta poto sampe memble. Bum! Bum! Bum! (hehehe… terima kasih buat Indah dan Maria yang sudah memperkenalkan game Bum!! ini)
Selesai berpoto ria, kami meneruskan perjalanan, menuju kawah Bromo. Di tengah perjalanan, kami turun sebentar, karena menemukan lokasi yang bagus banget buat berpoto-poto. Hahaha.. :D
Sampai di kawah Bromo
Turun dari Pananjakan, kami melintasi lautan pasir dan menuju area kawah Bromo. Sekitar setengah jam perjalanan kami tempuh. Saya menahan-nahan keinginan untuk pipis di sepanjang perjalanan. Sangat menyiksa.Hiks..
Di sekitar pura kami memarkir mobil.Bau tai kuda berbaur dengan debu dan angin. Saya belitkan syal ke muka.Di dekat parkiran, saya menemukan toilet umum, tapi antriannya… alamaaak.. hiks.. Tak ada pilihan lain, saya ikut berdiri di tengah barisan.. sambil menahan-nahan.
Begitu lepas dari siksa menahan pipis, saya kembali bergabung dengan teman-teman setim. Mereka sedang berdiskusi bagaimana mereka mau menuju ke kawah. Beberapa memilih naik kuda, sementara beberapa memilih jalan kaki. Saya sendiri, memutuskan tidak naik ke kawah. :D
Setelah mengambil poto Bas yang berpose di bawah pohon, saya berjalan-jalan di sekitar pura dan mengambil beberapa poto. Selebihnya, saya masuk ke jeep, menuntaskan sisa kantuk yang masih menggantung di mata. He he… J
Saya dibangunkan sejenak oleh sebuah sms. ‘Aku takut banget di atas’. Dari Bas di pinggir jawah. Saya tanya kenapa. Sms berikutnya,’Aku takut ketinggian. Mau pingsan,’. Saya bengong… dan tertidur lagi.
Satu persatu teman-teman kembali dari kawah. Yang paling saya ingat adalah Gor yang datang sambil menggerutu,’Seluruh bajuku, rambutku kena tai kuda!’ Bas menuruh saya memegang rambutnya yang jadi kaku seperti buntut kuda karena berdebu. Hahaha.. :D
Kembali ke Malang
Tidur di jok jeep selama teman-teman menikmati kawah ternyata bukan pilihan yang saya sesali. Hahaha.. satu per satu teman-teman bermunculan. Berbincang dan ..lagi-lagi.. berpoto-poto, dan siap berangkat pulang.
Dalam 45 menit, kami menyelesaikan perjalanan sampai ke tempat parkir mobil kami. Segera kami mengambil posisi masing-masing di mobil. Dan.. dalam beberapa menit saja.. sebagian besar telah hanyut dalam tidur masing-masing. Sepertinya Put saja yang kesulitan memejamkan mata.
Pasuruan terlewat ketika saya masih lelap. Ketika saya membuka mata, mobil telah memasuki Singosari. Mas Am menawarkan untuk berhenti mencari makan siang dulu. Ya.. saya termasuk sangat lapar. Dari semalam, kami belum makan. Ah, iya… burger dari McD.
Semua setuju untuk mencari makan dulu. Ke sebuah rumah makan tradisional mobil berbelok. Dengan wajah lesu, semua keluar dari mobil dan memilih tempat duduk. Pesanan telah didaftar. Mbak pramusaji segera berlalu membawanya.
Sambil menunggu saya putarkan pandangan. Ahm tengah menggeleparkan kepalanya di atas meja, sambil liyep-liyep. Di sebelah saya, Mare juga tengah memejamkan mata, dengan menyandarkan kepala di atas meja. Dia tampak sangat kelelahan. Seumur-umur belum pernah saya lihat orang-orang ini ‘seperti ini’. Sebuah pertanyaan melintas, apa ini memang Mare dan Ahm yangs ering saya temui di kantor? :D hahaha… sangat beda ketika mereka kelelahan.. hihiihi..
Makanan datang tak lama kemudian. Dan kami segera membereskannya.
Setengah jam berikutnya, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Malang
Semangkuk baso dan keripik buah
Sesampai di hotel, saya, Gor, Bas, Put segera mengumpulkan baju-baju yang kami pakai hari itu da memasukkannya ke laundry. Kami menjadi parno dengan tai kuda. Satu persatu, kami membasuh diri di kamar mandi.Segerrr…
Di kamar, semampu kami, kami bantai habis-habisan seluruh kantuk yang masih menyerang. Pukul 6 petang, saya telah selesai memeranginya. Udara Malang sangat menyenangkan. Saya menuju teras. Ternyata Bas telah tergolek di atas kursi teras. Saya hampiri dia dan ngobrol-ngobrol tentang pengalaman hari itu.
Sore itu seorang kawan kami yang kebetulan tinggal di Malang
Pukul 7 kami sepakat berangkat. Tujuan kami sebagaimana disarankan kawan kami tersebut.
Di Baso Malang President, kami nikmati masing-masing semangkuk baso kami. Saya memesan Baso Campur super. Kua, seorang expat, sangat menyukai makanan di Jawa. Sewaktu dia ditugaskan di Banda Aceh, dia merasa makanan di sana
Semangkuk baso di Malang
Satu lagi yang unik. Keripik buah. Sebelumnya saya belum pernah mencicipi keripik nenas, keripik apel, keripik mangga, keripik kesemek, keripik melon. Hehe…
Di toko oleh-oleh, saya menyomotinya satu per satu.
Petik jeruk
Esok harinya, rame-rame menikmati sarapan di sebuah warung. Saya sendiri memilih sepiring nasi pecel.Kua memilih makanan favoritnya, Rawon. Juga expat-expat yang lain. Menyukai rawon.
Sepulang dari sarapan kami berkemas, bersiap meninggalkan hotel. Ternyata, cucian di laundry belum semua sepenuhnya kering. Terpaksa kami membawanya dalam keadaan sedikit basah.
Tujuan berikutnya adalah Batu. Menikmati jalan-jalan di perkebunan apel, jeruk, strawberry.Kami harus membayar 25000 per orang untuk menebus kunjungan kami. Di beri layanan petik jeruk 2 buah (karena apelnya masih muda), roti bakar, jus jeruk dan wolcome drink berupa segelas jus apel.
Seorang pendamping menyertai kami. Menjelaskan detail lokasi perkebunan. Pertama kami mengitari hamparan kebun apel yang cukup luas. Di sisi-sisi jalan terdapat binatang-binatang sejenis kera yang ditempatkan di kandang. Ada
Usai mengitari kebun apel, dan tentu saja sambil terus bergaya lewat poto-poto, kami memasuki lokasi petik jeruk. Masing-masing mendapat jatah 2 buah. Kami mengabadikan sesi pemetikan satu per satu. Setiap anggota tim siap mememetik, mereka wajib di poto. :D
Jeruk yang kami petik sejenis jeruk sankis. Jadi lebih enak jika membukanya dengan pisau dengan langsung membelahnya, bukan dengan mengulitinya.
Di pintu keluar, seorang petugas membantu para pengunjung untuk membelah jeruk. Gor menyerahkan jeruk yang dipetiknya, dan membaginya dengan semua tim. Ternyata jeruknya.. muuaaniiiisss… (serius!!) :D
Puas berpanas-panas di lokasi petik, kami menuju restoran, untuk minum jus jeruk kami dan makan roti tawar. Sangat kebetulan, ada hiburan organ tunggal. Spontan kami mendaulat Bas untuk menyanyi. Dengan wajah malu-malu kambing, Bas maju ke panggung, mengalunkan lagu dari album Tompi. Kami bertepuk tangan dan menyebut-nyebut nama Bas. Beberapa pengunjung lain sempat ngelihatin tingkah kami.
Kami berpindah tempat duduk ke dekat panggung. Selesai lagu dari album Tompi, Bas menyanyikan lagu yang dipopulerkan Kla Project, Yogyakarta
Begitu Bas mengakiri lagunya, kami langsung bergegas meninggalkan tempat duduk, menuju kebun tanaman hias. Namun, belum sampai kita menacapai kebun tanaman hias, dari arah restoran sang penyanyi di restoran itu mendendangkan Kucing Garong. Spontan kami di tengah jalan berhenti .. dan bergoyang bebarengan.. Yiihaaa…!!
Tentu saja pengunjung pada ngeliatin. Mbak pendamping kami juga tertawa-tawa. Kami terus menari sambil berjalan pelahan ke arah kebun tanaman hias. Tak lupa, suara kamera berjepretan seperti tanpa berhenti. Bum!!
Di jalan menuju pintu keluar, salah satu dari petugas menjual jeruk dan apel ke pada pengunjung.Tim kami menyerbunya. Tawar-menawar sejenak, dan oleh-oleh khas Malang pun didapat.
Di halaman menuju tempat parkir, ada sebuah patung kera yang besaaaarr. Manusia hanya setinggi kakinya yang tengah berdiri. Serentak, beberapa di antara kami berpoto ria di bawah patung kera. Bahkan Dan memegang di bagian kemaluannya. Hahaha..:D Dasar..
Usai dari kunjungan ke agro wisata ini, mobil langsung mengarah pulang.. ke Yogya.
Meski sempat berurusan dengan polisi di daerah hutan jati Caruban, acara jalan-jalan ini luar biasa menyenangkan. Dipenuhi kekonyolan dan gelak tawa yang nyaris tak berkesudahan..
Thanks for letting me join the trip.. c u nxt adventure.. ;)
Leslie adalah seorang gadis muda yang berbeda. Dia seorang gadis yang berani. Bulir kata yang keluar dari mulutnya kerap membuat orang-orang disekelilingnya terkesima. Tidak hanya kata-katanya yang seperti bertuah, orang-orang menilai gaya dan tindak tanduknya cukup janggal. Tak terkecuali di mata Jess, yang sekelas dengan Leslie di sekolah.
Jess sendiri adalah sosok siswa pendiam, yang kerap dilecehkan kawan-kawannya. Jess hidup dalam keluarga yang kekurangan. Ayahnya yang bekerja sebagai pemilik toko kecil dan petani sayuran yang tidak cukup memiliki lahan, selalu merasa dalam keadaan tertekan oleh tuntutan tanggungjawab seorang kepala keluarga yang harus menanggung seorang istri dan 5 orang anak.
Jess memiliki bakat menggambar. Secara sembunyi-sembunyi, sering dibeberkannya imajinasi melalui gambar-gambarnya. IKebiasaannya meluangkan waktu untuk menggambar ini beberapa kali sempat disinggung ayahnya sebagai kegiatan tak berguna. (Ungkapan semacam ini mungkin sesuatu yang sangat biasa kita temui..setidaknya bagi saya).Membuka imajinasi seprti barang tabu bagi kebanyakan pihak.
Mengenal Leslie lebih dekat perlahan membuat dunia Jess berubah, dan kian berbeda. Leslie mengenalkan Jess pada keberanian.Leslie mengajarinya untuk tidak takut mencoba. Dunia menjadi lebih luas dan kaya di mata Jess.Lebih jauh, Leslie menuntun Jess, menemukan kembali imajinasi yang sempat terbengkalai, memapahnya berdiri dan berjalan lagi. ’Keep you mind wide open’,ungkapan Leslie ini yang selalu menginspirasi Jess.
Terabithia. Demikian ranah imajinasi itu dinamai. Leslie dan Jess membangun kerajaan Terabithia. Sebuah tali yang menggelantung di atas sebuah sungai adalah jembatan yang melemparkannya ke Terabithia, negeri di tengah sebuah hutan purba.begitu mereka berayun pada tali, sejenak kemudian mereka telah menemukan diri mereka di antara peohonan. Terabithia adalah sebuah kerajaan dengan penuh kejutan. Tiba-tiba saja, Jess dan Leslie manjadi pelari terhebat di seluruh negeri, menjadi ksatria tangguh dan tak kenal takut. Di hutan ini lah, di Terabithia, imajinasi menari dan berlarian seliar warga hutan.Jesslah sang raja. Bersama Leslie, Jess memimpin pasukan Terabithia menundukkan Pangeran Kegelapan beserta pengikutnya. Nuansa kebebasan, kemerdekaan serta perdamaian membuar dalam setiap sudut negeri.
Kisah ini bertajuk Bridge to Terabithia.
Film yang dibuat berdasar cerita yang ditulis oleh Katherine Paterson ini seperti sebuah sentilan sederhana bagi pikiran para orang dewasa, yang telah mengalami begitu banyak pemampatan lewat serangkaian norma dan nilai-nilai yang berseliweran di setiap fase kehidupan: keluarga, sekolah, dan masyarakat sendiri. Mungkin, menonton film ini sedikitnya sekedar mengajak kita membuka lagi catatan dari dunia masa kecil (jika masih punya) ‘di mana kita simpan imajinasi kita?’ Ide tentang hutan yang bersentuhan dengan kebebasan, yang juga menjadi persoalan utama dalam film ini, mungkin bukan sebuah kombinasi yang baru. Kebebasan sendiri seperti saudara kembar imajinasi. Banyak cerita menyarankan hutan sebagai bentuk ‘eskapisme’ atas kerumitan yang muncul dalam stabilitas sebuah sistem. Kisah cinta yang cukup monumental dalam Scarlet Letternya Howthorne atau juga Coming Up For Air milik Orwell (lagi-lagi. ) sebagai contoh lain. Hutan dianggap sebagai wahana yang seolah tak berujung untuk menggali segala keinginan bebas manusia. Hutan juga dianggap wilayah yang tak terjamah order yang dibangun manusia (mungkin juga peradaban), dan ide ini juga sangat sering muncul di banyak cerita, hingga menyentuh kisah Harry Potter (meski di Harry Potter dunia sihir sendiri menjadi semacam bentuk ide tentang dunia ideal lain). Sebenarnya, hal yang serentak muncul di ingatan saya adalah potongan tulisan milik Henry David Thoreau di Walden.
I went to the woods because I wished to live deliberately, to front only the essential of life, and see if I could not learn what it had to teach, and not, when I came to die, dicover that I had not lived. Potongan tulisan ini sangat lekat di ingatan saya, bukan karena saya pembaca karya para transcendentalist Amerika yang getol, atau pun karena potongan tulisan ini muncul di salah satu film yang agak saya suka, Dead Poet Society.
Tapi akhirnya dengan menyesal saya sadari, agaknya doktrinasi bulan-bulan awal kuliah saya terlalu keras dibuat. Karena memang puisi ini bukan muncul dari ingatan saya akan sebuah buku atau dokumen. Tapi sebuah sesi di kelas bertahun-tahun silam. Memang sialan sih.. Merindukan kebebasan imajinasi, kenyataannya saya malah membiarkan pengaruh orientasi jurusan memenuhi memori saya. :D (saya pikir para gemasian sangat ingat siapa yang jadi penjahatnya..hahaha J) Mungkin kalau masih sempat, mungkin ngga salah juga untuk sedikit kita tengok, di mana imajinasi kita telah dipukul habis hingga pingsan (atau mati)? hidup dengan imajinasi yang mati? mungkin setiap kita punya jawaban sendiri…
' di kantor, ketika malas pulang'
Seorang lelaki tengah berselinapan pada kesibukan jalanan, menyusup ke gerbong kereta, menghindari para pemburunya. Sejenak saja, para pemburunya telah kehilangan sosoknya.
Pada saat yang sama, sekelompok orang, di sebuah ruangan tertutup di kantor CIA dengan komputer aktif mengakses data, memantau perkembangan informasi berkenaan dengan sebuah nama.
Demikian tayangan di atas mengawali The Bourne Ultimatum. Dengan rentetan pelbagai tayangan yang tak berjeda lama, penikmat cerita dipusatkan ke seorang lelaki, yang kemudian dikenal sebagai Jason Bourne.
Adalah Bourne, seorang warga Amerika yang didaulat sebagai kelinci percobaan pertama atas sebuah proyek pengubahan perilaku, orientasi dan identitas yang dioperasikan di Divisi Training CIA. Proyek yang pada awalnya disebut Treadstone dan kemudian Blackbriar ini selanjutnya akan mencetak para agen pembantai (assassin), pengintai, sekaligus penyusup handal yang bekerja selayak robot bertubuh manusia, yang dapat diperintah sejalan pihak pengendalinya. Para
Adalah Bourne, yang kemudian menemukan bahwa proyek yang dijalankan terhadap dirinya ini secara bertahap mematikan sisi kemanusiaan, membunuh kenangan dan masa lalu, dan lebih jauh, mencerabut ‘ke-diri-an’, dan menukarnya dengan sosok bentukan, yang ditanamkan di bawah gagasan ‘ sebagai sang penyelamat warga Amerika’ (dalam semacam proses doktrinasi, berulangkali disodorkan pertanyaan ‘apakah kau ingin menyelamatkan warga Amerika?’).
Menyadari konsekuensi yang harus diterima dalam proyek tersebut, Bourne memutuskan membongkar identitas bentukan yang disandangnya, melepas lapis demi lapis selubung penutup kenangannya, mengejar setiap detail penanda (tokoh, berita, dokumen) yang mampu mengaitkannya pada fase wiwitan, di mana identitas ‘asing’nya mulai dibangun. Seiring perjalanan kepulangannya pada dirinya, Bourne berusaha menguak proyek rahasia yang telah meminta warga Amerika menjadi korbannya tersebut. Usaha ini membawakannya resiko besar, yang bahkan mengancam nyawanya, serta orang-orang yang terkait dengannya. Di antara orang-orang ini misal wartawan London yang meliput mengenai proyek yang dijalaninya, kekasihnya sendiri Julia Kreutz (kalo ngga salah :D, bukan Deutsch Rotes Kreutz, kok), serta Nicky Parsons (diperankan oleh Julia Stiles),juga termasuk Pam Langley, salah seorang dari agen pemerintah yang semula turut yang memburunya, kemudian beralih haluan memihak Bourne.
Penyoalan identitas yang harus bergesekan dengan sebuah sistem besar yang melingkupinya (sistem negara, semisal) sepertinya selalu menarik untuk disoroti. Film ini sekilas mengingatkan saya pada tokoh Winston Smith dalam 1984 karya George Orwell(seinget saya kekasih Winston Smith juga bernama Julia). Namun, sedikit berbeda dari keputusasaan Orwell berkenaan dengan usaha individu untuk mampu bermain dan menyiasati sebuah sistem negara, film dengan Matt Damon yang memerankan Bourne ini memandang sebuah pertikaian identitas dalam diri seseorang adalah hal yang jauh dari pesimisme. Dan mungkin ini memang telah diniscayakan dalam banyak film Holywood. Jadi, maaf, kita nikmati saja bagaimana Matt Damon telah menjadi seorang pemenang di film ini, dan penonton tidak perlu membawa pulang kisah sedih tentang keputusasaan. Cukup mengesankan untuk disaksikan seusai jam kerja sebenarnya. :D
Yang saya suka dari film ini--selain karena Matt Damon bermain di dalamnya—adalah cara pengambilan gambar yang sangat aktif. Saya serasa bersama para tokoh diajak berlarian mengejar menyusup, mengintip, menerobos keramain,merasakan ngos-ngosan, mengintai, menatap wajah para lawan bicara, membaca muka dari dekat, mengamati ekspresi mata, merasakan degup kegelisahan para tokoh, dan masih banyak detail kejadian yang demikian dibuat lebih kentara di hadapan saya. Ajakan untuk menatap lebih dekat juga ditunjukkan dengan cara zooming yang bertahap mendekat mulai dari tampilan area ( London Madrid kota Sisi yang kurang menarik adalah ending yang lumayan bisa ditebak. Seandainya dibuat absurd atau tragis di akhir pun, saya juga ngga mau nerimanya. Jika mau membuat si tokoh mati, sebaiknya pemerannya diganti Brad Pitt atau Tom Cruise aja. :D (maaf ya, mbak Dewi.. ;))
Adalah Narcissus putera dewa sungai
Cephissus dan dewi air Liriope yang
sangat tampan wajahnya.
Banyak perempuan yang jatuh cinta
padanya namun tak ada satupun yang bisa
menarik perhatiannya.
Seorang dewi bernama Echo (Gema)
benar-benar kasmaran sehingga ia
bersusah payah mengejar Narcisuss hingga
ke tebing-tebing, jurang dan gunung.
Tapi tetap saja Narcisuss tidak bergeming.
Dengan hati yang remuk redam dewi Echo
perlahan menghilang hingga yang
terdengar hanya pantulan suaranya yang
penuh duka.
Suatu ketika Narcisuss sedang
berjalan-jalan menyusuri sebuah sungai
yang sembilan kali mengalir mengelilingi
alam arwah, Styx. Ia membungkuk untuk
meminum sedikit airnya.
Betapa terkejutnya ketika ia melihat
bayangan wajahnya di sungai. Ternyata,
betapa sangat tampannya ia.
Begitu dahsyatnya kekaguman pada
wajahnya sendiri yang tercermin di
permukaan air jernih itu bahkan kemudian
ia merasa jatuh cinta dan tak sanggup
meninggalkan bayangannya.
Ketika ia mencoba mengulurkan tangannya
untuk menggapai wajah dalam air dan
bermaksud menciumnya, Narcisuss
tergelincir, tenggelam dan kemudian
meninggal.
Para dewa menemukan jasadnya dan
mengubahnya menjadi bunga yang disebut
sebagai bunga narcisuss/narsis.
Bunga narsis adalah sejenis bunga
berumbi, termasuk dalam golongan bakung
- dafodil ( Amaryllidaceae). Biasanya
berwarna putih, kuning bahkan ada juga
yang berwarna merah.
Orang-orang yang senang difoto, dilukis,
yang senang memfoto dirinya sendiri,
yang bangga dan mengagumi foto-foto
dirinya sendiri sering disebut dalam
pergaulan sebagai orang yang narsis.
Jika gejala terarahnya nafsu akibat
mengagumi, mencintai diri sendiri secara
berlebihan dan mengganggu kepribadian,
ahli jiwa menyebutnya sebagai narcissme,
mengacu pada kisah mitologi Yunani
tersebut diatas.....
(posting ini dicopy dari Bulletin Board Indra)
i got a small discussion this late afternoon pertaining to what so-called participatory achievement is.
a lot of people recently turn their head and start focusing more to any issue with the adjective 'participatory' coming along.
would be very nice actually, if any program implemented all over this country will use what they call as participatory approach, which more or less means that an approach during the whole process of implementation which enable the respective community to get involved and really perform their own planning,implementation and also evaluation. at the end, it's expected that people then can mobilize their own resources, capacity,communal 'power' and their social capital, to really create policies applicable for their own benefit. from, by, and for the community. that's the way it says.
nevertheless, what my colleague in banda aceh shared today in his email is quite interesting. many organizations which give donation and run their projects in aceh is under the title 'participatory everything programs' . no need to mention one by one. too many actually. my colleague himself is also starting a program which also with 'participatory' adjective in it.but then the problem he is facing is that those people from the targeted community keeps demanding some 'salary'(though it's under the name of 'transport, per diem, allowance or whatever) which is paid on daily-base, for their involvement in t/for their community. from his email, he indicates his hopelessness to manage this 'artificial salary' issue. he says how can he keeps going on his ideal idea to have such a participatory approach, while all those organizations keep paying that kind of stuff. he is getting on some kind of conclusion (I am not sure if it's a really final conclusion) that in Aceh that kind of approach, can be said, is impossible to work out.no one really can move on with their participatory program without keeping a large bunch of USD or CHF in their pocket, and ready to distribute them to the community, really by disbursing them to the people.and without this 'precious' pocket, it would be better to step back and pack all your stuff, bring your luggage and leave out of the community area.
is the community really losing their internal cohesion, burnt out into the never-ending-money-labyrinth?
another friend in banda aceh gave me a story in several day ago. delightfully and very optimistically he told me that he started to manage a new cooperative for some acehnese friends who had lost their jobs in banda aceh. he said that it did take some time, but not really such a long time which made him really exhausted. and he is trying to keep developing this small economic movement. I still remember when at the very beginning he conveyed his idea, some people really laughed at him, and said it was a stupid idea to be carried out, in aceh especially. even I, to be honest, at that time also doubted that his idea really can be put into reality. but then, now it's really there. those people have their cooperative, and they start their bussiness with their small capital.
'the matter is on how you approach them' my friend explained.'you need to be part of the community, and really feel how far they suffer from all their dificulties and enjoy their life, then you really can feel why they behave such ways' he added.
well, maybe that's true. how we really approach the people in the community. nothing can be instantly happened in any participatory activities. everything is about a smooth process of approaching, getting to know people around us, learning, listening by heart, cooperating, respecting human being in the way human being should be treated, sharing ideas, waving one idea with another, adjusting ourselves into the way community live, negotiating and following every detail point of the movement.patient is one of the keywords.
and in aceh, that's really a special case. those people got continuos disasters including their in-years conflict and the huge horrible tsunami-earthquake. socially they have been weaken down and washed-up by the conflict, and physically the tsunami just like really accomplishing all the tasks to make the community totally collapsed. honestly, 'personally, i really can't imagine how they can live in such a conflict more than 30 years. even the president only have 5 year opportunity to really make a development in this very large country, even sumtimes less, for if within his/her first 3 year governing period he/she doesn't really make any improvement/development, some political parties may start some criticism on his/her performance.and aceh, which is only a small drop of water compared to the whole country-ocean, has to undergo a 30-year process on the other way around continuosly.
and about being part of the community, how many facilitator can really want to 'invest' their time and life for that? I do not say there is none, but is it that many ? I really hope it is.anyone who comes from outside of the community, can they really be humble enough to put aside his/her individual privilege a little bit, to really spend their time, concerns, attention dominantly for learning about the cultural side of the community? and really being part of the community?
maybe, that money labyrinth is there and very much influential. but, there is also some optimism, that the willingness to really develop the internal cohesion is still there. it's just being hibernated, in a sleeping mode, since a utterly time-consuming conflict keeps torturing it and forcing it to be silent, or maybe dying.but not really dead.
i'm sure. it's there.need to be waken up.
gondomanan, a bit late stay in the office, 12 july 07
that was really a precious moment for me. really cant remember when the last time I've ever been in that kind of moment. that's small, but truly deep.
sitting around on the paved yard of taman budaya. was listening to , again, played gamelan.after so long time never heard a living play of gamelan, and now it's just in front of my nose.maybe the trance session was just happening.
could't really explain what i was feeling. was just crying inwardly, sensing the eyes getting warm and blurry.
my mind is just full 0f various things dancing around, sometimes just like making my throat chocked-up and breath shortly jammed several times. felt the time just stup running and in a sudden popping up to some-when in years ago. dancing, singing, listening my father among those instruments played by para niyaga.
never consider this as either painful or joyful moment . this is somthing different. close more to peacefulness mingling with many other things. but never be pain, distressed or joyful feeling.it just stands as it is. maybe any person has this kind of stage or moment, which is at the end un-explainable, but quite unique.just dont wanna miss it somehow.
anyone who might haven't been in this kind of moment, just need time to wait. but am sure, it will come ..
mungkin belum lengkap sebagai penghuni yogya (meski baru seumur jagung) tanpa sedikit ngintip-ngintip kegiatan di FKY.dari sedikit event yang saya sambangi, ada beberapa catatan kecil:
- saya umumkan dan himbau dengan sangat, mungkin sebaiknya panitia tidak memasang spanduk, papan pengumuman, atau apa saja dengan memakunya di tembok, apalagi di dinding benteng vredeburg. bukan karena itu peninggalannya kumpeni, tapi memang sebagai penyuka gedung cantik, rasanya ngga rela kalo mereka dibuat terluka. . . menyakitkan tentunya.. hiks..
- ingin band baru unuk didengerin musiknya. saya perkenalkan Gendhing. saya sempat nonton manggungnya Gendhing. musiknya inovatif dan keren.ada techno dikitdikit, nadanada musik padang pasir(kayak badai pasir gitu kali hehehe..),rap,dan kental dengan pengaruh musik etnis timur tengah,qasidah.. :) mungkin enak buat nari perut ;P. enak didengerin pas lagi kerja atau lagi sepisepi gitu. paling tidak, komposisi musiknya menarik banget, meski, buat saya komposisi liriknya tidak sekeren komposisi musiknya. seperti mereka akui di konser mereka, Andre Manika, yang malam itu juga hadir, adalah salah satu guru bermusik mereka. Andi (yang bergelar Pangeran Jaya Gendhing itu) mengemukakan kalo musik itu bisa dibilang bahasa perasaan dia.. ciyeeh.. dan alat musik hanya sekedar alat untuk menyuarakan bahasa mereka.mungkin gitu kali yah. Dibantu oleh beberapa pemain musik tambahan, yang ternyata masih bersaudara dengan Gendhing, malam itu mereka tampil dengan tata panggung yang sederhana. Meski demikian, mereka tidak kehilangan perhatian penonton. panggung yang tidak terlalu tinggi, dan bisa dibilang sangat dekat dengan penonton, justru membangun suasana akrab dalam konser mereka. komentar-komentar penonton bisa dengan spontan disampaikan. pohon beringin besar yang kadang bagi beberapa orang menimbulkan nuansa 'wingit', malam itu sang pohon justru bikin lagu-lagu gendhing lumayan eksotis, natural dan adem :)sayangnya, saya ngga mengikuti konser ini dari awal, karena konsernya berbarengan dengan farewell party-nya boss besar di kantor. jadi terpaksa haru memaruh malam buat kedua event penting tersebut.
- pertunjukan lain adalah pertunjukan band yang disponsori oleh sebuah universitas islam di YK, perusahaan minyak nasional, dan beberapa radio, serta company yang agak saya lupa namanya. band-band indie YK memperoleh kesempatan buat unjuk kebolehan pada event yang diadakan di depan monumen SU 1 Maret dan masih dalam rangkaian kegiatan untuk FKY. Kali itu ada Killing Your Mom, Taman Bunga, Squadron, The Pilots, para pelaku seni dari asrama-asrama daerah(Kalimantan Barat, Jawa Barat, Aceh), dan juga marching band dari universitas sponsor.ada beberapa band lain yang saya lupa namanya. dan di antara performance yang ditampilkan sore hingga malam itu, terus terang hanya beberapa yang menarik. band yang tampil kebanyakan beraliran musik keras. malah dua band seperti berlomba buat jadi 'muse'-nya jogja.. he he .. ada satu band yang memainkan musik yang mengadopsi musik-musik daerah. dan salah satu dari personilnya memainkan jimbe dengan lincah dan cantik. asyik banget.dan aransemen yang mereka buat yang kental dengan nuansa etnis indonesia, sangat menyentuh buat saya. ketika mereka menyanyikan lagu daerah makassar dan lagu gayo, tampak banyak penonton sangat menikmati musik yang mereka sajikan. rasanya pengen ikut lonjak lonjak di panggung bareng temen-temen gayo itu. keren.
dari jajaran para pemain dari asrama daerah, tampak tim dari kalimantan barat paling top deh. blocking panggungnya bagus. jadi untuk pementasan, blocking ini sangat berpengaruh ternyata. baju yang kuning menyala juga pilihan yang cukup bagus untuk menyiasati pencahayaan yang tidak terlampau terang.
penampilan dari asrama Aceh, yang menampilakan tarian adat suku Gayo, tampak biasa saja, mungkin karena saya pernah menyaksikan beberapa penampilan yang lebih menghibur di negerinya sana. hehe. gak adil mungkin,ya.
setelah pertunjukan dari asrama-asrama daerah, menyusul adalah DRag queen show. si 'mbak' dalam show ini pernah saya lihat manggung di Kinoki dalam rangka memperingati hari transeksual sedunia. Tapi waktu itu namanya Shanti. dan di malam pertunjukan di FKY ini dia bernama Tata Yong.dan seperti biasanya, performance-nya ...wow!! hebuuuooohh... dan ditambah lagi dengan rekannya yang bernama Mulan Kwo itu. Mulan berlenggak lenggok sampai ke tengah penonton, naik ke atas kotak loudspeaker, dan menari layaknya 'mencumbui' tiang panggung.. wedew!! sayang, tukang potonya dah buanyak banget, jadi saya males berebutan buat motret hehehe..
usai drag queen show, band-band yang menggaungkan musik berirama keras kembali menguasai panggung. penampil pertama agak mengecewakan sebenernya. lagu 'hysteria'- nya Muse yang sangat saya gemari itu jadi terasa gatal di telinga saya.:( mungkin saya kurang cocok dengan pilihan untuk menurunkan tone lagu itu dan improvisasi vokalis untuk menyiasati oktaf suaranya yang kurang tinggi.ini terasa kurang pas buat telinga saya. di lagu terakhirnya si vokalis menyanyi dengan bergaya armand maulana. dan sebenernya suaranya lebih pas kalo dia bergaya armand maulana saja ketimbang matthew bellamy. kenapa dia ngga pake gaya dia sendiri aja, ya...tentunya bakalan lebih oyisinyil gituh. nyanyi hysteria sambil bergaya nari jathilan gitu kali ya hehehe.tapi kalo boleh saya minta, ubah pilihan lagu hysteria itu dari list mereka. hiks.. ;( (jahat,ya.. :D)
karena kurang puas dengan penampilan band pengawal sesi malam ini, saya dan teman saya sempat bikin 'judi'.. hehe..''kalo sampe band kedua ini masih dengan kualitas yang sama, kita cabut aja' demikian kawan saya bilang.
kemudian muncul band selanjutnya, The Pilots. dan, ternyata keren bangeet. :) suara musik yang keras yang pada penampilan2 sebelumnya kurang bisa dinikmanti (sebenernya juga karena sound system yang kurang bagus), oleh band ini jadi tetap sangat enjoyable.permainan musiknya terdengar 'rapi'. mungkin lain kali, kalau ada konser-konser yang menampilkan the pilots, dan gratis, saya akan menontonnya, deh.dan di antara lagu-lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu karya mereka sendiri.
setelah the pilots, dua band yang tersisa tidak begitu enak dinikmati sebenarnya. tapi akhirnya saya putuskan untuk tetap tinggal sampe penutupan.
:) demikian sekelumit cerita dari ajang FKY yang digelar dua bulan terakhir ini. hehe
pernahkah cerita itu
sampai pada langitlangit kamarmu,
seraya menerbangkan
guguran bulu mataku
di hamparan telapak tanganmu?
semoga mereka cukup setia
untuk berkisah tentang sekerat kerinduan.
- kanthi rasa kapang kang nabet ati
Old days, don't come to find me
The sun is just about to climb up over there
While my heart is sinking I do not want my voice
To go out into the air
Did you leave the darkness without me?
You're always miles ahead
And you're standing in tomorrow on the runway
Oh, be the music in my head
The air around my bed
Oh, be my rest
Replace the small disgraces of the times and places
That I never really left
Did you leave the darkness without me?
You're always miles ahead
And you're standing in tomorrow on the runway
Oh, I want to fly, fly forward into the light
Be alive, to come alive
On the leaf-bright Friday drive
Sudden horses at the red light
Turn around, see clearer ways to go now
kekasihku,
lidahmu yang memercik bara
telah menghunus sebilah malam
dengan ujung dingin yang kian membekukan
hingga takmampu lagi kita berkilah
dari gigil yang menerobos belulang.
.
.
mengapa tak lagi kita ingat
di mana kehangatan pernah disematkan?
.
.
(sungguh pantaskah kemarahan menebas persahabatan?)
13 june 2007
seperti apakah sebuah kebetulan dimaknai? yang jelas, kebetulan itu pada gilirannya adalah satu bentuk kejutan. dan keajegan rutinitas keseharian tentunya memastikan bahwa kejutan adalah hal yang (bisa dibilang) indah. meski sekecil apapun itu.
malam kemarin, seusai meladeni Bjork menyeloteh nakal, lagu bermusik minimalis itu merayap pelan-pelan, mengiringi sebuah suara serak perempuan. petikan gitar itu terasa menyentuh.
lagu itu merayuku sebelum akhirnya kumatiin komputer, dan menyusul IN lelap di kamarnya. Pagi-pagi sekali, laun kutangkap lagi lagu itu. berulangulang. tapi telingaku tenang tak kenal bosan. IN tengah mengetik di komputernya. sementara mataku masih enggan meninggalkan pejam.
aku sempat ke luar kamar, memandikan diri, membasuh rambut dan mencucinya. setengah jam kirakira. kembali ke kamar, lagu itu masih mengalun.
kemudian IN bertukar kegiatan. dia ke luar, mandi.lagu itu masih saja melantun berulang tak juga sudah. dan pendengaranku mulai berkawan padanya.
lagu ini telah mampu merayuku. mencanduiku. semalam IN juga memberikan pengakuan. tengah terpikat pada lagu ini. seperti halnya aku. 'sepagi, sesiang, tigaperempat malam telah dirayahnya' ungkap IN.
segera sebelum beranjak pergi,kusalin lagu itu ke flash-disk. ah, dan nantinya dia akan menerobos di waktuwaktu kerjaku. tentunya menghibur.
***
memaklumkan sebuah symposium. dua hari di ibukota.aku menemukannya di antara peserta.satu sosok menarik.(masih enggan kujelaskan bagaimana dia menarik). semenjak hari sebelumnya, kubilang pada IN, sosok ini menarik. IN menyodorkan kerlingan.
ini hari terakhir symposium.pada satu agenda,peserta harus keluar ruangan, berkelompok dan berrapat. di sebuah kesempatan kecil, kusampaikan pada IN, "sosok itu lebih memilih di baris belakang.mungkin menyenangkan bila kulewatkan sesi akhir ini bersamanya' dan lagilagi IN mengerling. 'ah, mungkin tidak juga. lebih baik tetap bersamamu, IN, di kursi depan.lebih jelas mendengar diskusi yang berlangsung' IN tertawa mendengarku kebingungan.depan atau belakang?
waktu diskusi kita lewati. waktunya kembali ke ruang plenary.yah,akhirnya kurencana mengambil jajaran depan. tapi lihatlah, barisan depan telah dijajah orangorang. yang terlewatkan hanya baris tiga.. oh tidak.. ke empat.. dan itu adalah baris belakang. terpaksa kuambil baris paling belakang dan memindahkan bawaanku.tibatiba aku dengar suara itu memanggil. sosok itu dengan sepuhan senyum, yang sebenarnya,tanpa sadar,kurekam erat.dia tawarkan kursi di sebelahnya.Dan jawabanku? sejelas 1+1 = 2!! dan seperti kutukan, sangat kebetulan, bahwa akhirnya kuhabiskan sesiku berbincang dengan si sosok incaranku. sebuah kebetulan.dan mengejutkan.
***
usai symposium, pesawat itu telah menungguku. harus tak lebih dari 3 jam aku menghampirinya. demikian tiketku mengingatkanku.
sejam, pesawat ini membawaku terbang.
saat mendarat, kuputuskan untuk tak langsung pulang. kostan adalah tujuan kedua. kantorlah pemenangnya. persiapan untuk sebuah workshop mengerucutkan tujuan perjalananku malam ini.
malamku berlalu di kantor.bossku tengah kisruh di hadapanku. menyiapkan paparannya untuk workshop esok.tanpa musik.terlampau sepi. hanya keluhan itu berserakan dari mulutnya. ya, keluhan. wajahnya mengungkapkannya. meski bahasa dari mulutnya tak kupahami.
berjamjam tanpa musik.
aku rindu lagu itu. yang jadi candu baru buatku,di kamar IN. tentu sangat membantu untuk sedikitnya mengurangi gigil ruangan ber-AC.
masih hendak kuambil flash diskku,di mana salinan lagu itu kuselipkan, ketika bossku berujar 'do you mind if I play some music?' aku hanya menjawab 'nope'.
dan aku berteriak kecil tanpa sadar. lagu itu!! sungguh kebetulan. dan benar sebuah kejutan.
..tommorow is runway..
![]()
Seringkali aku berkata,
ketika orang memuji milikku bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipanNya,
bahwa rumahku hanyalah titipanNya,
bahwa hartaku hanyalah titipanNya,
bahwa putraku hanyalah titipanNya,
Tetapi, Mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
Ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali,
Kusebut itu sebagai musibah Kusebut itu sebagai ujian,
Kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah sebuah derita.
Ketika aku berdo'a,
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
Dan kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku,
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknya darita menjauh dariku,
Dan nikmat darita kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,Dan bukanlah kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", Dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.
Gusti, Padahal tiap hari kuucapkan, Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah.....
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja" Adalah anugrah"
WS Rendra
thanks Intan, buat renungannya :)
kami berencana ke Mata'ie.di sebuah pagi di ambang siang. dengan sengatan matahari khas Banda Aceh.kami menjadwalkan hiking di daerah mata air di selatan kota itu. Adi, salah satu dari kami, juga akan mengajak caving.
Kami bertiga, dengan 2 sepeda motor. Aku membonceng kawanku,Uya. Adi meminjam sepeda motor adiknya.
Bertemu di tempat tinggalku pukul 10 siang, kemudian langsung berangkat.Begitulah kami merekam rencana. Namun, tampaknya rencana itu harus dikemas ulang. ketika ibtu hape-ku menunjukkan pukul 12.00 . Itu artinya sudah pukul 11.15.Tetapi, Belum juga ada tanda-tanda kedatangan Adi.Uya mulai bingung. Tasnya sudah penuh dengan bekal air putih dan biskuit. Dia siap sudah untuk bertualang.Sementara,ami sama-sama kehausan pulsa, sehingga kami menemui kesulitan yang sama untuk menghubungi Adi. Akhirnya menunggu.
sekitar setengah jam kemudian, baru sebuah SmS menggetarkan hape Uya.
'sorry,Ya. Aku masih di bengkel. Rantai sepeda motorku putus.Aku di bengkel depan Mina Hamami'
Aku dan Uya langsung meluncur ke lokasi yang disebutkan Adi. Panas! itulah yang langsung tercecap di kepalaku begitu keluar dari naungan atap rumah. Panas luar biasa!! Owh, Banda Aceh,keluhku dalam hati. bayangan tentang mata air dan sungai di Mata Ie berkelebat-kelebat.coba kalo langsung ke mata ie, pasti segerr... pikiranku lagi-lagi mengeluh.
dalam lima menit, kami mencapai Adi.
Tuhan.... pekikku tertahan.
bengkel itu di pinggir jalan, dan... tak ada tempat berteduh.Adi tengah jongkok di sisi sepeda motornya bersama tukang bengkel. sibuk mengutakatik rantai.Uya berhenti dan segera menghampiri. aku mengikuti.Adi nyengir kecut ke arah kami.sambil punggung tangannya sibuk mengelap buliran peluh di dahi. wajahnya tampak lebih gelap di tengah timpaan panas matahari yang begitu hebat.bagaimana dia bisa begitu tahan jongkok di pinggiran aspal kasar dengan temperatur sepanas ini.keringatnya akan segera habis mendidih karenanya, pikirku.
sepuluh menit berlalu seperti ratusan menit. berdiri di bawah ganasnya tengah hari Banda Aceh di musim kemarau sepertinya menyedot kesabaran lebih kencang. panase kaya araara mahsyar, mungkin demikian ibu saya akan bilang, panasnya seperti di padang mahsyar.teringat tibatiba video klip Rafli untuk lagu 'di padang mahsyar'. ingat akting Rafly yang berjalan pakai tongkat tertatih di tengah padang gersang.ingataningatan ini makin membuat kepalaku terasa berasap, HUfff..
'apa kita ngga berangkat dulu, aja?' kataku setengah berbisik akhirnya, di telinga Uya.'panas banget nih..' kataku sambil nyengir.
Uya menoleh padaku dan tersenyum. Dia melepas topinya. Memasangkannya di kepalaku.'pakai ini, ya. dan jangan pernah tinggalkan kawan.apalagi yang tengah dalam kesulitan' ucapnya pelan di telingaku. sembari tersenyum.
kurasa matahari meredup.
banda aceh, di sebuah siang.
matahari yang memerah
perlahan merendah.
mencumbu wajahmu
di sebalik biru wajah lautan.
percik buih
berkecipak di gelombang rambutmu
dan senja itu
terkesima di sayu matamu
terima kasih atas keindahan ini,
bisikku.
pantai kasih, sabang fair, april 2007
malam telah lampaui ujung.
kantuk tak pula berkunjung.
telepon tua ini rapat di genggaman
menunggu suara itu terjelmakan.
hendaknya,
pejam akan menghampiri seusainya.
pandean sari, dini hari, 22 mei 2007