« Pertikaian klasik tentang identitas | Main | Memburu sepotong keajaiban »

August 21, 2007

Memapah kembali imajinasi yang terbengkalai

Leslie adalah seorang gadis muda yang berbeda. Dia seorang gadis yang berani. Bulir kata yang keluar dari mulutnya kerap membuat orang-orang disekelilingnya terkesima. Tidak hanya kata-katanya yang seperti bertuah, orang-orang menilai gaya dan tindak tanduknya cukup janggal. Tak terkecuali di mata Jess, yang sekelas dengan Leslie di sekolah.

Jess sendiri adalah sosok siswa pendiam, yang kerap dilecehkan kawan-kawannya. Jess hidup dalam keluarga yang kekurangan. Ayahnya yang bekerja sebagai pemilik toko kecil dan petani sayuran yang tidak cukup memiliki lahan, selalu merasa dalam keadaan tertekan oleh tuntutan tanggungjawab seorang kepala keluarga yang harus menanggung seorang istri dan 5 orang anak.

Jess memiliki bakat menggambar. Secara sembunyi-sembunyi, sering dibeberkannya imajinasi melalui gambar-gambarnya. IKebiasaannya meluangkan waktu untuk menggambar ini beberapa kali sempat disinggung ayahnya sebagai kegiatan tak berguna. (Ungkapan semacam ini mungkin sesuatu yang sangat biasa kita temui..setidaknya bagi saya).Membuka imajinasi seprti barang tabu bagi kebanyakan pihak.

Mengenal Leslie lebih dekat perlahan membuat dunia Jess berubah, dan kian berbeda. Leslie mengenalkan Jess pada keberanian.Leslie mengajarinya untuk tidak takut mencoba. Dunia menjadi lebih luas dan kaya di mata Jess.Lebih jauh, Leslie menuntun Jess, menemukan kembali imajinasi yang sempat terbengkalai, memapahnya berdiri dan berjalan lagi. ’Keep you mind wide open’,ungkapan Leslie ini yang selalu menginspirasi Jess.

Terabithia. Demikian ranah imajinasi itu dinamai. Leslie dan Jess membangun kerajaan Terabithia. Sebuah tali yang menggelantung di atas sebuah sungai adalah jembatan yang melemparkannya ke Terabithia, negeri di tengah sebuah hutan purba.begitu mereka berayun pada tali, sejenak kemudian mereka telah menemukan diri mereka di antara peohonan. Terabithia adalah sebuah kerajaan dengan penuh kejutan. Tiba-tiba saja, Jess dan Leslie manjadi pelari terhebat di seluruh negeri, menjadi ksatria tangguh dan tak kenal takut. Di hutan ini lah, di Terabithia, imajinasi menari dan berlarian seliar warga hutan.Jesslah sang raja. Bersama Leslie, Jess memimpin pasukan Terabithia menundukkan Pangeran Kegelapan beserta pengikutnya. Nuansa kebebasan, kemerdekaan serta perdamaian membuar dalam setiap sudut negeri.

Kisah ini bertajuk Bridge to Terabithia.

Film yang dibuat berdasar cerita yang ditulis oleh Katherine Paterson ini seperti sebuah sentilan sederhana bagi pikiran para orang dewasa, yang telah mengalami begitu banyak pemampatan lewat serangkaian norma dan nilai-nilai yang berseliweran di setiap fase kehidupan: keluarga, sekolah, dan masyarakat sendiri. Mungkin, menonton film ini sedikitnya sekedar mengajak kita membuka lagi catatan dari dunia masa kecil (jika masih punya) ‘di mana kita simpan imajinasi kita?’

Ide tentang hutan yang bersentuhan dengan kebebasan, yang juga menjadi persoalan utama dalam film ini, mungkin bukan sebuah kombinasi yang baru. Kebebasan sendiri seperti saudara kembar imajinasi. Banyak cerita menyarankan hutan sebagai bentuk ‘eskapisme’ atas kerumitan yang muncul dalam stabilitas sebuah sistem. Kisah cinta yang cukup monumental dalam Scarlet Letternya Howthorne atau juga Coming Up For Air milik Orwell (lagi-lagi. ) sebagai contoh lain. Hutan dianggap sebagai wahana yang seolah tak berujung untuk menggali segala keinginan bebas manusia. Hutan juga dianggap wilayah yang tak terjamah order yang dibangun manusia (mungkin juga peradaban), dan ide ini juga sangat sering muncul di banyak cerita, hingga menyentuh kisah Harry Potter (meski di Harry Potter dunia sihir sendiri menjadi semacam bentuk ide tentang dunia ideal lain).

Di beberapa adegan, film ini sebenarnya sangat jujur. Bagaimana sebuah hal yang mungkin termasuk sensitif disampaikan tokoh dengan ringan dan terus terang. Semisal sebuah obrolan para tokoh yang cukup menarik. Di atas sebuah bak mobil sepulang dari gereja, Jess,Leslie dan Maybelle (adik perempuan Jess) terlibat diskusi tentang Bible. Maybelle bertanya apakah Leslie mempercayai Bible. Dan dengan terus terang dia mengaku ketidakpercayaannya. Kemudian Maybelle dengan wajah keheranan bertanya lagi 'Tidakkah orang akan masuk neraka jika dia tidak mempercayai Bible?. 'Betul, kan, Jess?'tanyanya lagi sambil memandang Jess. Sambil gelagapan Jess menjawab 'I think so'. Sambil tersenyum Leslie menanggapi tanpa malu-malu 'I don't think so.' (apakah ada tempat di dunia kita untuk orang sejujur Leslie dalam merespon kitab suci? :))

Sebenarnya, hal yang serentak muncul di ingatan saya adalah potongan tulisan milik Henry David Thoreau di Walden.

I went to the woods because I wished to live deliberately, to front only the essential of life, and see if I could not learn what it had to teach, and not, when I came to die, dicover that I had not lived.

Potongan tulisan ini sangat lekat di ingatan saya, bukan karena saya pembaca karya para transcendentalist Amerika yang getol, atau pun karena potongan tulisan ini muncul di salah satu film yang agak saya suka, Dead Poet Society.

Tapi akhirnya dengan menyesal saya sadari, agaknya doktrinasi bulan-bulan awal kuliah saya terlalu keras dibuat. Karena memang puisi ini bukan muncul dari ingatan saya akan sebuah buku atau dokumen. Tapi sebuah sesi di kelas bertahun-tahun silam. Memang sialan sih.. Merindukan kebebasan imajinasi, kenyataannya saya malah membiarkan pengaruh orientasi jurusan memenuhi memori saya.  :D (saya pikir para gemasian sangat ingat siapa yang jadi penjahatnya..hahaha J)

Mungkin kalau masih sempat, mungkin ngga salah juga untuk sedikit kita tengok, di mana imajinasi kita telah dipukul habis hingga pingsan (atau mati)?

hidup dengan imajinasi yang mati? mungkin setiap kita punya jawaban sendiri…

' di kantor, ketika malas pulang'

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .