« Memapah kembali imajinasi yang terbengkalai | Main | this window corner »

August 26, 2007

Memburu sepotong keajaiban

Ini hanya sebuah kilasan cerita dari sebuah perjalanan. Kami bersepuluh (saya, Kua, Gor, Mare, Mar, Dan, Put, Bas,Got, Ahm dan mas Am) menyisakan sebuah kesempatan untuk menikmati berberapa hari bersama-sama.

Persinggahan awal di Malang

Diawali dari

Malang,Kota terbesar kedua di Jawa Timur ini ternyata sangat ‘anggun’. Jalanan yang ramah, iklim yang bersahabat, bernuansa historis. Di banyak sisi,Malang mengingatkan saya pada Bandung. Suasana sejuk perbukitan, jalan-jalan yang naik turun di antara pepohonan hutan, kesenyapan daerah pedesaan.Keramahan alam ini menyambut kami, sebelum akhirnya kami memasuki kota.

Put, Entertainment Officer kami, telah dengan baik hati mengatur penginapan buat kami semua. Hotel Armi di daerah Klojen.Kami mencapai hotel sekitar pukul 04.00 sore. Kami menyewa 11 kamar. Pada awalnya kami berencana, membagi dua orang di setiap kamar. Oleh karena tidak semua anggota tim bisa berbagi ruang, akhirnya pembagian memang tidak rata seperti rencana semula. Tetapi, ini bukan sebuah masalah besar. Saya sendiri yang dalam satu kamar berempat tidak merasa terganggu. Bahkan, kami lebih banyak cerita menjelang tidur. Obrolan makin seru dan makin panjang. Tawa pun jauh lebih ‘gila’. Sengat mengesankan !

Usai mandi dan menyelonjorkan pinggang sejenak, saya, Put, Gor, Bas, Kua, Mar dan Dan jalan-jalan di sekitar hotel. Siapa sangka ada penjual tahu goreng tepat di depan hotel sore itu !! Tahu-tahu itu begitu menggoda, dengan aroma yang ditebar ketika dia masih berkubang minyak panas di atas kompor. Haruuumm. Dede segera mengajakku menghampiri. Tentu saja saya mau !! J

Sambil nggembol tahu dan gorengan yang dilengkapi petis, kami melanjutkan jalan-jalan. Beberapa langkah kemudian,di sudut sebuah pertigaan, ada pedagang baso

malang

. Tanpa menimbang terlalu panjang, semua setuju untuk mampir. Dan ternyata, rasanya luuuarr biasa. Baso Malang di Malang.. hehehe.. rasanya ini pernah jadi cita-cita, deh.

Selepas maghrib, semua tim siap dengan jadwal berikutnya.Seperti termaktub dalam lembar Itenerary yang disiapkan Indah, kami dijadwalkan makan malam.

Makan malam di toko ‘OEN’

Dalam itenerary disebutkan (seinget saya)’makan malam dengan suasana zaman Belanda’. Yang saya bayangkan memang sebuah tempat makan, bergedung zaman kumpeni. Malam itu kami full-team mengambil satu meja.

Melangkah ke pintu masuk, tampak seorang berwajah ‘kumpeni’ duduk sendiri dengan meja bulat di hadapannya. Satu botol bir menemaninya. Mungkin ini fase no. 1 menuju suasana zaman Belanda.

Kami langsung menentukan meja. Sebuah meja besar dengan jumlah kursi yang bisa memadai buat tim kami. Muncul seorang karyawan dengan setelan kemeja putih lengan panjang, bercelana panjang warna hitam, dan semua kancing baju tertutup rapat. Tepat di sudutku, dia menghampiri kami.

‘Mbak, maaf, nulis sendiri saja,ya, pesanannya.Kami hanya berdua, dan tamunya banyak.’

Sebentar saya berpandangan dengan Jude sebelum akhirnya saya jawab ‘ok, mas’. Buku menu pun di bagikan satu per satu. Di sampul buku menu ada tulisan ‘Toko Oen, The Colonial Restaurant since 1930’. Jadi ini restoran kolonial, pikir saya. :D Fase no.2 menuju suasana zaman Belanda. Bangunan restoran ini adalah sebuah rumah peninggalan jaman Belanda. Kursi-kursinya pun berdetail bentuk khasa jaman Belanda. Waktu kecil,saya inget, ruang tengah di rumah Ponorogo pernah memakai kursi rotan berkerangka besi itu untuk kursi tamu.

Dengan lapar yang kian mengganas, semua segera menekuni buku menu.

Ahm yang sedang membuka-buka menu bertanya ke saya  What’s the special menu from this restaurant?’, dan saya bilang kalo saya kurang tahu karena ini kunjungan pertama. Dia berkata ‘I want Rawon’, dan ketika saya cek tidak ada rawon di daftar menu.’Which one is Indonesian food? ‘sambungnya. Saya buka-buka buku menu lagi, dan saya menemukan tulisan ‘Indonesian Food’. Saya tunjukkan halaman Indonesian Food ke Ahm sambil saya jawab, ‘This page is Indonesian Food, the rest is something colonial’, dan kami tertawa. Fase no. 3, menuju zaman kolonial.

Kemudian iseng saya tanya Ahm apakah dia sudah bersiap-siap untuk perjalanan malam itu. Dia tampak kaget,’What?Tonight? ‘tanyanya meyakinkan.’Yes. You can check it in the itenerary.Put has it. We will go tonight at 12.’ Ahm langsung kebingungan mencari lembar itenerary sambil tertawa kecut. Saya hanya ikut tertawa.

Lewat 30 menit, belum ada tanda-tanda pesanan kami muncul dari dapur. Sambil menunggu, kami sibuk melihat-lihat ke bagian kue kering. Gor mendekati saya dan bilang ‘Mbak, kue ini pasti enaknya ra karu-karuan.’sambil menunjuk ke setoples kue kering warna coklat. Mata saya terbelalak segera.58,000 buat setoples kue kering. Saya dan Gor bergeser, dan lebih shocked lagi begitu menemukan setoples nastar seharga 75,000. Huaa…apakah mereka menyampurnya dengan bubuk emaaas??!!! Fase no. 4?

1 jam lewat, dan makanan belum tampak dilayankan.

Ketika kembali ke meja, wajah Ahm sudah sangat lesu kelaparan. Tapi, seperti biasa, dia selalu tersenyum simpul. Sambil melirik judul buku menu di hadapan kami, dia bertanya pelan ‘Does this restaurant have only two waiters since 1930?’dan spontan kami tertawa. Inikah fase no.5?

Setelah menunggu sampai nyaris 2 jam, akhirnya, satu per satu pesanan muncul. Di tengah suasana makan, seorang pramusaji mendekati meja kami. Lagi, melalui sudut saya, dia bilang,”Mbak, maaf, boleh saya ambil buku menunya, soalnya yang lain juga butuh’,. Saya bengong. Mar segera menjawab’ya, silakan, Mas. Masa kita yang harus mengepaknya’. Hmm… Fase no.6 kah?

Tanpa menunggu sampai setengah jam, semua makanan ludes tersantap. Tak lama kemudian, kami berangkat pulang.

Makan malam di restoran bernuansa zaman Belanda: perlu perjuangan dan kesabaran untuk memperoleh makanan, membeli kue sama beratnya dengan meraih kemerdekaan. Tapi, masih untung, sehabis makan tidak disuruh jadi kerja rodi. :D Dan kami tak butuh fase ini saya rasa… ;)

Perjalanan tengah wengi

Ternyata alarm tak mampu membangunkan saya pada waktu yang saya harapkan. Pukul 12.30 malam dijadwalkan meninggalkan hotel. Manusia-manusia yang satu kamar dengan saya baru bangun sekitar pukul 11.30.  Dengan mata yang masih berat, kami bergiliran keluar masuk kamar mandi. Karena dingin, saya putuskan cuci muka dan sikat gigi saja. Hehehe… Jadi bisa meninggalkan kamar sedikit lebih duluan.

Di teras, ternyata Ahm sudah lebih dulu siap. Asap rokoknya tengah mengepul di depan hidungnya, ketika saya hampiri dia.

Pukul 12.10 kami berangkat, menuju McD. Sampai di halaman waralaba amerika ini mobil kami langsung mengambil arah ke Drive Thru. Di depan jendela, kami menyebutkan masing-masing pesanan. Beberapa pesanan sedang ‘kosong’, dan terpaksa diganti pesanan yang lain. Beberapa menit kemudian, pesanan tidak juga muncul.Seorang karyawan meminta kami memarkir mobil. Selintas beberapa dari kami mendengus kesal. Put memutuskan turun dari mobil dan langsung masuk ke gedung waralaba.

Kurang lebih 40 menit menunggu,  Put keluar dari restoran. Beberapa kopi tumpah dan membasahi gula sachet di dalamnya. Sambil membagi pesanan dia bercerita tentang perdebatannya dengan si petugas waralaba. Dia menyampaikan seharusnya di situ bukan ditulis ‘Drive Thru’ tapi ditulis ‘Drive and Wait’, karena service yang  terlalu lama, dan pesanan tidak langsung diperoleh di depan jendela pelayanan.

Gor yang duduk paling belakang juga ikut berkomentar,’Ini kopi rasanya campur teh ngga karu-karuan, ya..’Hihihihi…

Saya langsung melahap pesanan saya. Kopi saya terlalu panas untuk langsung ditenggak. Akhirnya cukup saya taburkan gula, dan saya biarkan di sebelah jok. Begitu habis makanan di tangan saya, saya mengatur sandaran kursi untuk posisi tidur. Masih sekitar tiga jam lagi untuk sampai ke tujuan berikutnya, Bromo. Cukup untuk melanjutkan mimpi.Zzz..

Sampai di lereng Bromo

Jalan yang berkelok-kelok, dan sesekali suara mobil menderam karena gas ditancap sedikit lebih keras, membangunkan saya. Di luar jendela mobil tampak remang-remang. Hanya lampu mobil penerangan yang membantu pandangan.Bas ternyata juga sudah bangun. Di berbisik-bisik ke arah Gor. Dia sedikit deg-degan dengan jalan yang menanjak dan berbelok-belok. Saya ikut berdebar-debar, tapi kantuk saya masih cukup berat. Hanya sesekali saya buka mata.

Di dekat sebuah pertigaan, mobil berhenti. Mas Am yang menyetir mobil memanggil Put, bertanya di mana pastinya lokasi yang mau dituju. Put yang sepertinya juga tertidur menjawab dengan sedikit geragapan. Dia agak kebingungan karena di luar gelap sekali. Seteleh berdiskusi sebentar, diputuskan untuk berbalik arah. Tepat di ujung pertigaan, mobil berhenti lagi. Kami mencoba mencari seseorang dari daerah tersebut untuk bisa bertanya.

Saya lihat Ahm keluar dari mobil. Dia berjalan ke arah pepohonan. Dia masuk ke kegelapan bayangan pohon. Sebentar, kemudian keluar lagi, sembari merapikan jaketnya.

Dari arah bawah, sebuah mobil pibk-up dengan sebuah tanki air plastik di atasnya tengah bergerak menuju ke arah kami. Mas Am berdiri agak ke tengah jalan dan melambaikan tangannya, meminta si penyetir mobil berhenti sejenak.

Begitu mobil pick-up berhenti, Mas Am berbicara sebentar. Beberapa menit kemudian, mobil pick-up berlalu.

‘Kita menunggu mobil itu. Begitu dia kembali, kita ikuti dia.’demikian informasi yang disampaikan.

Kami menunggu. Saya sandarkan kepala dengan malas. Berharap perjalanan masih agak lama, setidaknya cukup untuk menuntaskan kantuk.

Mobil pick-up itu muncul lagi tak lama kemudian. Dia bergerak jauh lebih lincah dari minibus kami. Setelah melalui beberapa kelokan dan tanjakan, kami sampai ke sebuha lapangan parkir. Penyetir pick-up turun dan menjelaskan bahwa kami perlu melanjutkan perjalanan sedikit lagi, lurus. Tangannya menunjuk ke arah yang perlu kami tuju. Beberapa pedagang sarung tangan dan syal mendekat ke jendela dan menawarkan dagangan. Pelan saya mengisyaratkan tidak membeli.

Sampai di loket, Put turun. Dia menyelesaikan pembayaran tiket masuk. Got, Dan, dan Mare menuju toilet. Saya dan Gor ikut nimbrung. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, diputuskan untuk menyewa 2 mobil jeep. Setelah sebentar tawar menawar, kami memperoleh sedikit potongan harga.

Sambil menunggu kedatangan mobil yang kami pesan, kami menuju toko yang menyediakan syal-syal tebal, tutup kepala dan sarung tangan.Ann memilih warna merah maroon dan sebuah tudung kepala garis-garis. Dengan stelan baru yang dipakainya,dia tampak benar-benar ‘bule’ ketika winter. Kua juga tampak imut dengan tudung yang dipakainya. Kemudian saya temukan Bas masih sibuk memilih-milih warna. Saya tawarkan warna merah ke dia. Dia menggeleng. Dia sibuk membanding-bandingkan warna syal dengan sweater dan celananya.

‘Kok, kamu repot banget, sih, dengan warna syal?’tanya saya sedikit nggumun karena dia sulit banget menentukan warna syal.

‘Ya, harus. Nanti kalo dipoto biar matching. Nanti

kan

kalo potonya dipasang di Friendster biar keren’ jawabnya lancar. Spontan saya dan Gor terkekeh. Fashionable all the way..

Akhirnya Bas memilih warna coklat tua untuk syalnya. Kami keluar dari toko. Ahm sedang memperhatikan kami semua, melihat satu persatu stelan musim dingin kami. Dia sendiri tidak memakai jaket yang terallau tebal, dan komentarnya ke Kua dan Mar,’Hey, this is still in tropical country’. Komentar senada juga disampaikan Got.

Jeep yang kami tunggu akhirnya muncul. Saya ingat saya masih punya segelas kopi dari McD yang belum saya minum. Sebentar saya masuk ke mobil kami, saya ambil kopi yang masih rapi tertutup. Segera saya teguk habis.

Selesai menghabiskan kopi, saya berlari menuju jeep. Saya ambil jok depan, berteman tas punggung teman-teman. Tapi, saya merasakan kopi yang saya minum bereaksi pada jantung saya. Degupnya sedikit lebih keras, dan nafas saya sedikit agak berat. Tapi tidak begitu saya pedulikan.

Mencapai Pananjakan

Melanjutkan menyusuri kelokan dan tanjakan jalanan dengan jeep terasa lebih ringan. Masih dengan kantuk yang belum sepenuhnya hilang, kami mengejar matahari terbit di gardu pandang di Pananjakan.

Pengunjung meruah. Mobil terpaksa diparkir agak jauh. Di kegelapan kami semua turun dari mobil. Begitu pintu mobil terbuka, sontak angin gunung yang menggigilkan menyerbu. Buru-buru saya rogoh saku jaket saya, mencari sarung tangan. Agak menyesal saya hanya memakai baju dua lapis. Satu kaus dan satu jaket tipis. Syal saya pun kurang begitu tebal. Beruntung saya sudah mengenakan kaus kaki. Badan saya menggigil lumayan hebat. Saya rangkul tangan Bas untuk sekedar membantu menambah hangat. Ternyata Bas juga tak kalah kencang gigilnya.Kami berjalan mengaitkan tangan satu sama lain.

Kami berjalan menyusuri jalan yang sedikit menanjak dan gulita. Di tengah sebuah jembatan yang menanjak, kepalaku terasa kliyeng-kliyeng. Nafas mulai memberat. Pelipis terasa berdenyut-denyut. Dalam hati saya mengumpat kopi dari McD. Saya langsung ingat teman kerja saya di Banda Aceh pernah bilang,’After drinking a cup of coffee, you have to drink two cups of water afterwards. Otherwise, the coffee becomes poisonous towards your body’. Saya tarik tubuh Bas sedikit lebih dekat.Pelan saya bicara pada Bas, minta air. Segera Bas merogoh isi tasnya, dan mengeluarkan sebotol air mineral.saya lepaskan tangan saya dari rombongan. Kaki saya terasa lemas.

Tanpa pikir panjang, saya langsung duduk di tempat. Beberapa kali orang menubruk tanpa sengaja. Saya nyalakan senter kecil di hape untuk memberi tanda ke orang-orang.Saya buka botol air sedikit tergesa. Keringat dingin sudah mulai bermunculan. Tegukan pertama terasa sejuk sekali di dada. Segera saya lanjutkan dengan menghabiskan sisanya. Saya sandarkan punggung dan kepala sejenak ke dinding semen di belakang saya. Terasa dingin. Tanda batere nyaris habis berkedip-kedip di hape. Saya telepon Bas. Ternyata rombongan sudah sampai tujuan. Saya tarik nafas dalam-dalam.Begitu, denyut jantung sudah mulai normal, saya berdiri dan melanjutkan jalan.

Berebut celah di pagar

Tak sampai

lima

menit, saya sampai ke gardu pandang. Orang-orang berjubel di sepanjang pagar. Saya tidak tahu persis sudah jam berapa. Semua berebut celah, untuk bisa menangkap kemunculan matahari pagi. Di Bromo.

Saya merasa beruntung. Sebuah celah di pagar masih tersisa. Saya langsung duduk dan mengatur nafas. Ransel berisi kamera saya peluk. Dingin banget.

Saya tengok ke arah luar pagar. Masih sangat gelap. Beberapa orang berusaha merangsek ke jajaran di pagar. Badan saya sedikit terdorong. Saya pegang erat-erat pipa galvanised yang di tanam di pilar pagar.Orang-orang ini tidak mikir bahwa mereka bisa membahayakan nyawa orang lain, pikir saya.

Saya putuskan untuk berdiri di atas pagar. Dengan begitu, akan lebih sedikit space yang yang butuhkan di jajaran pagar. Saya lilitkan sebelah kaki ke pipa, sehingga membantu saya mengunci tubuh saya pada pagar. Ini memudahkan saya untuk memotret dengan dua tangan.

Ternyata matahari terbit masih lama.

Masih dengan badan melilit pagar, saya ambil hape saya. Saya telpon nama di urutan pertama phonebook saya. Dua kali nada panggil, dan sebuah suara menjawab telepon saya. Dia bersuara bangun tidur. Sambil tertawa saya bilang, ‘hey, bangun tidur,ya. Saya lagi di Pananjakan. Nunggu matahari terbit di Bromo.’ Dia langsung berteriak, ‘pengeen,’’.

Obrolan kami saya putus, Sebuah serudukan dari arah belakan pinggang saya hampir menjatuhkan hape di genggapam saya. Saya sempat mau mengomel, tapi akhirnya hanya saya pandang lekat-lekat mata orang yang berusaha merangsek ke posisi di sebelah kanan saya. Dengan cahaya langit menuju pagi, saya lihat bahwa dia berambut pirang.

Tepat sebelah kiri saya berdiri adalah sebuah pilar pagar. Seorang laki-laki berusaha mendakinya, untuk menempatkan handycam di atasnya. Duh…

Setelah lebih satu jam menunggu, langit mulai menjingga. Orang-orang sibuk jeprat-jepret. Ketika langit sudah mulai terang, tapi matahari belum muncul, tiba-tiba angin berehembus dan ….segerombolan awan berarak-arak menghalangi pandangn. Hiyaaaaa… Saya terbahak sendiri menyaksikan ini. Mentertawakan diri sendiri. Mengingat keajaiaban yang saya tunggu-tunggu. Yaah.. apa boleh buat.

Saya sibukkan diri mengambil gambar Gunung Batok yang terpapar di depan mata.sesekali saya ambil poto saya sendiri. Hihihi… Dan untungnya, Semeru membagikan pemandangan indahnya. Gumpalan asap biru kehitaman itu bergumpal-gumpal di atasnya.Wow… saya langsung pencet berkali-kali tombol shutter.Ini keajaiban yang tidak saya sangka sebelumnya. God,extremely beautiful!!

Eeeeehh…. Tiba-tiba saya merasa pantat saya didorong orang agak keras. Untung si Dety terkait ke leher saya. Huh.. (Dety adalah nama kamera saya:D). Langsung saya putar kepala saya ke belakang. Rambut pirang yang lain. Berbicara dalam bahasanya Napoleon Bonaparte dengan si prang yang pertama. Hmmh…

Ketika hari sudah makin terang, semua tim saling memotret.Pesta poto sampe memble. Bum! Bum! Bum! (hehehe… terima kasih buat Indah dan Maria yang sudah memperkenalkan game Bum!! ini)

Selesai berpoto ria, kami meneruskan perjalanan, menuju kawah Bromo. Di tengah perjalanan, kami turun sebentar, karena menemukan lokasi yang bagus banget buat berpoto-poto. Hahaha.. :D

Sampai di kawah Bromo

Turun dari Pananjakan, kami melintasi lautan pasir dan menuju area kawah Bromo. Sekitar setengah jam perjalanan kami tempuh. Saya menahan-nahan keinginan untuk pipis di sepanjang perjalanan. Sangat menyiksa.Hiks..

Di sekitar pura kami memarkir mobil.Bau tai kuda berbaur dengan debu dan angin. Saya belitkan syal ke muka.Di dekat parkiran, saya menemukan toilet umum, tapi antriannya… alamaaak.. hiks.. Tak ada pilihan lain, saya ikut berdiri di tengah barisan.. sambil menahan-nahan.

Begitu lepas dari siksa menahan pipis, saya kembali bergabung dengan teman-teman setim. Mereka sedang berdiskusi bagaimana mereka mau menuju ke kawah. Beberapa memilih naik kuda, sementara beberapa memilih jalan kaki. Saya sendiri, memutuskan tidak naik ke kawah. :D

Setelah mengambil poto Bas yang berpose di bawah pohon, saya berjalan-jalan di sekitar pura dan mengambil beberapa poto. Selebihnya, saya masuk ke jeep, menuntaskan sisa kantuk yang masih menggantung di mata. He he… J

Saya dibangunkan sejenak oleh sebuah sms. ‘Aku takut banget di atas’. Dari Bas di pinggir jawah. Saya tanya kenapa. Sms berikutnya,’Aku takut ketinggian. Mau pingsan,’. Saya bengong… dan tertidur lagi.

Satu persatu teman-teman kembali dari kawah. Yang paling saya ingat adalah Gor yang datang sambil menggerutu,’Seluruh bajuku, rambutku kena tai kuda!’  Bas menuruh saya memegang rambutnya yang jadi kaku seperti buntut kuda karena berdebu. Hahaha.. :D

Kembali ke Malang

Tidur di jok jeep selama teman-teman menikmati kawah ternyata bukan pilihan yang saya sesali. Hahaha.. satu per satu teman-teman bermunculan. Berbincang dan ..lagi-lagi.. berpoto-poto, dan siap berangkat pulang.

Dalam 45 menit, kami menyelesaikan perjalanan sampai ke tempat parkir mobil kami. Segera kami mengambil posisi masing-masing di mobil. Dan.. dalam beberapa menit saja.. sebagian besar telah hanyut dalam tidur masing-masing. Sepertinya Put saja yang kesulitan memejamkan mata.

Pasuruan terlewat ketika saya masih lelap. Ketika saya membuka mata, mobil telah memasuki Singosari. Mas Am menawarkan untuk berhenti mencari makan siang dulu. Ya.. saya termasuk sangat lapar. Dari semalam, kami belum makan. Ah, iya… burger dari McD.

Semua setuju untuk mencari makan dulu. Ke sebuah rumah makan tradisional mobil berbelok. Dengan wajah lesu, semua keluar dari mobil dan memilih tempat duduk. Pesanan telah didaftar. Mbak pramusaji segera berlalu membawanya.

Sambil menunggu saya putarkan pandangan. Ahm tengah menggeleparkan kepalanya di atas meja, sambil liyep-liyep. Di sebelah saya, Mare juga tengah memejamkan mata, dengan menyandarkan kepala di atas meja. Dia tampak sangat kelelahan. Seumur-umur belum pernah saya lihat orang-orang ini ‘seperti ini’. Sebuah pertanyaan melintas, apa ini memang Mare dan Ahm yangs ering saya temui di kantor? :D hahaha… sangat beda ketika mereka kelelahan.. hihiihi..

Makanan datang tak lama kemudian. Dan kami segera membereskannya.

Setengah jam berikutnya, kami melanjutkan perjalanan kembali ke

Malang

.

Semangkuk baso dan keripik buah

Sesampai di hotel, saya, Gor, Bas, Put segera mengumpulkan baju-baju yang kami pakai hari itu da memasukkannya ke laundry. Kami menjadi parno dengan tai kuda. Satu persatu, kami membasuh diri di kamar mandi.Segerrr…

Di kamar, semampu kami, kami bantai habis-habisan seluruh kantuk yang masih menyerang. Pukul 6 petang, saya telah selesai memeranginya. Udara Malang sangat menyenangkan. Saya menuju teras. Ternyata Bas telah tergolek di atas kursi teras. Saya hampiri dia dan ngobrol-ngobrol tentang pengalaman hari itu.

Sore itu seorang kawan kami yang kebetulan tinggal di

Malang

datang berkunjung. Beruntung bagi kami, karena dia memberikan saran untuk tempat makan malam kami. Pilihan jatuh di Baso Malang President.

Pukul 7 kami sepakat berangkat. Tujuan kami sebagaimana disarankan kawan kami tersebut.

Di Baso Malang President, kami nikmati masing-masing semangkuk baso kami. Saya memesan Baso Campur super. Kua, seorang expat, sangat menyukai makanan di Jawa. Sewaktu dia ditugaskan di Banda Aceh, dia merasa makanan di

sana

terlalu pedas untuknya.

Semangkuk baso di

Malang

ternyata isinya memang sangat kaya. Saya tidak bisa menamai satu per satu isinya. Semacam siomay, batagor, baso goreng. Dan semangkuk baso bisa sangat mengenyangkan.

Satu lagi yang unik. Keripik buah. Sebelumnya saya belum pernah mencicipi keripik nenas, keripik apel, keripik mangga, keripik kesemek, keripik melon. Hehe…

Di toko oleh-oleh, saya menyomotinya satu per satu.

Petik jeruk

Esok harinya, rame-rame menikmati sarapan di sebuah warung. Saya sendiri memilih sepiring nasi pecel.Kua memilih makanan favoritnya, Rawon. Juga expat-expat yang lain. Menyukai rawon.

Sepulang dari sarapan kami berkemas, bersiap meninggalkan hotel. Ternyata, cucian di laundry belum semua sepenuhnya kering. Terpaksa kami membawanya dalam keadaan sedikit basah.

Tujuan berikutnya adalah Batu. Menikmati  jalan-jalan di perkebunan apel, jeruk, strawberry.Kami harus membayar 25000 per orang untuk menebus kunjungan kami. Di beri layanan petik jeruk 2 buah (karena apelnya masih muda), roti bakar, jus jeruk dan wolcome drink berupa segelas jus apel.

Seorang pendamping menyertai kami. Menjelaskan detail lokasi perkebunan. Pertama kami mengitari hamparan kebun apel yang cukup luas. Di sisi-sisi jalan terdapat binatang-binatang sejenis kera yang ditempatkan di kandang.

Ada

kera jawa, siamang, dan beberapa jenis kera yang tidak saya ingat nama jenisnya. Juga ayam hutan, ayam kate, ayam mutiara, kaswari dan beberapa jenis burung yang lain.

Usai mengitari kebun apel, dan tentu saja sambil terus bergaya lewat poto-poto, kami memasuki lokasi petik jeruk. Masing-masing mendapat jatah 2 buah. Kami mengabadikan sesi pemetikan satu per satu. Setiap anggota tim siap mememetik, mereka wajib di poto. :D

Jeruk yang kami petik sejenis jeruk sankis. Jadi lebih enak jika membukanya dengan pisau dengan langsung membelahnya, bukan dengan mengulitinya.

Di pintu keluar, seorang petugas membantu para pengunjung untuk membelah jeruk. Gor menyerahkan jeruk yang dipetiknya, dan membaginya dengan semua tim. Ternyata jeruknya.. muuaaniiiisss… (serius!!) :D

Puas berpanas-panas di lokasi petik, kami menuju restoran, untuk minum jus jeruk kami dan makan roti tawar. Sangat kebetulan, ada hiburan organ tunggal. Spontan kami mendaulat Bas untuk menyanyi. Dengan wajah malu-malu kambing, Bas maju ke panggung, mengalunkan lagu dari album Tompi. Kami bertepuk tangan dan menyebut-nyebut nama Bas. Beberapa pengunjung lain sempat ngelihatin tingkah kami.

Kami berpindah tempat duduk ke dekat panggung. Selesai lagu dari album Tompi, Bas menyanyikan lagu yang dipopulerkan Kla Project,

Yogyakarta

. Kami semua ikt menyanyi. Dan perhatian pengunjung tertumpah ke arah kami. Hiihih… Serasa Happy Puppy pindah mendadak..

Begitu Bas mengakiri lagunya, kami langsung bergegas meninggalkan tempat duduk, menuju kebun tanaman hias. Namun, belum sampai kita menacapai kebun tanaman hias, dari arah restoran sang penyanyi di restoran itu mendendangkan Kucing Garong. Spontan kami di tengah jalan berhenti .. dan bergoyang bebarengan.. Yiihaaa…!!

Tentu saja pengunjung pada ngeliatin. Mbak pendamping kami juga tertawa-tawa. Kami terus menari sambil berjalan pelahan ke arah kebun tanaman hias. Tak lupa, suara kamera berjepretan seperti tanpa berhenti. Bum!!

Di jalan menuju pintu keluar, salah satu dari petugas menjual jeruk dan apel ke pada pengunjung.Tim kami menyerbunya. Tawar-menawar sejenak, dan oleh-oleh khas Malang pun didapat.

Di halaman menuju tempat parkir, ada sebuah patung kera yang besaaaarr. Manusia hanya setinggi kakinya yang tengah berdiri. Serentak, beberapa di antara kami berpoto ria di bawah patung kera. Bahkan Dan memegang di bagian kemaluannya. Hahaha..:D Dasar..

Usai dari kunjungan ke agro wisata ini, mobil langsung mengarah pulang.. ke Yogya.

Meski sempat berurusan dengan polisi di daerah hutan jati Caruban, acara jalan-jalan ini luar biasa menyenangkan. Dipenuhi kekonyolan dan gelak tawa yang nyaris tak berkesudahan..

Thanks for letting me join the trip.. c u nxt adventure.. ;)

                                                                                                   

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .