« Narcissus | Main | Memapah kembali imajinasi yang terbengkalai »

August 21, 2007

Pertikaian klasik tentang identitas

Bourneposter

Seorang lelaki tengah berselinapan pada kesibukan jalanan, menyusup ke gerbong kereta, menghindari para pemburunya. Sejenak saja, para pemburunya telah kehilangan sosoknya.

Pada saat yang sama, sekelompok orang, di sebuah ruangan tertutup di kantor CIA dengan komputer aktif mengakses data, memantau perkembangan informasi berkenaan dengan sebuah nama.

Demikian tayangan di atas mengawali The Bourne Ultimatum. Dengan rentetan pelbagai tayangan yang tak berjeda lama, penikmat cerita dipusatkan ke seorang lelaki, yang kemudian dikenal sebagai Jason Bourne.

Adalah Bourne, seorang warga Amerika yang didaulat sebagai kelinci percobaan pertama atas sebuah proyek pengubahan perilaku, orientasi dan identitas yang dioperasikan di Divisi Training CIA. Proyek yang pada awalnya disebut Treadstone dan kemudian Blackbriar ini selanjutnya akan mencetak para agen pembantai (assassin), pengintai, sekaligus penyusup handal yang bekerja selayak robot bertubuh manusia, yang dapat diperintah sejalan pihak pengendalinya.

Para

manusia yang ditraining dalam proyek ini dipaksa tidak lagi berhak atas kepemilikan ‘diri’nya. Telah disiapkan bagi mereka sebuah identitas baru untuk mereka.

Adalah Bourne, yang kemudian menemukan bahwa proyek yang dijalankan terhadap dirinya ini secara bertahap mematikan sisi kemanusiaan, membunuh kenangan dan masa lalu, dan lebih jauh, mencerabut ‘ke-diri-an’, dan menukarnya dengan sosok bentukan, yang ditanamkan di bawah gagasan ‘ sebagai sang penyelamat warga Amerika’ (dalam semacam proses doktrinasi, berulangkali  disodorkan pertanyaan ‘apakah kau ingin menyelamatkan warga Amerika?’).

Menyadari konsekuensi yang harus diterima dalam proyek tersebut, Bourne memutuskan membongkar identitas bentukan yang disandangnya, melepas lapis demi lapis selubung penutup kenangannya, mengejar setiap detail penanda (tokoh, berita, dokumen) yang mampu mengaitkannya pada fase wiwitan, di mana identitas ‘asing’nya mulai dibangun. Seiring perjalanan kepulangannya pada dirinya, Bourne berusaha menguak proyek rahasia yang telah meminta warga Amerika menjadi korbannya tersebut.  Usaha ini membawakannya resiko besar, yang bahkan mengancam nyawanya, serta orang-orang yang terkait dengannya. Di antara orang-orang ini misal wartawan London yang meliput mengenai proyek yang dijalaninya, kekasihnya sendiri Julia Kreutz (kalo ngga salah :D, bukan Deutsch Rotes Kreutz, kok), serta Nicky Parsons (diperankan oleh Julia Stiles),juga termasuk Pam Langley, salah seorang dari agen pemerintah yang semula turut yang memburunya, kemudian beralih haluan memihak Bourne.

Penyoalan identitas yang harus bergesekan dengan sebuah sistem besar yang melingkupinya (sistem negara, semisal) sepertinya selalu menarik untuk disoroti. Film ini sekilas mengingatkan saya pada tokoh Winston Smith dalam 1984 karya George Orwell(seinget saya kekasih Winston Smith juga bernama Julia). Namun, sedikit berbeda dari keputusasaan Orwell berkenaan dengan usaha individu untuk mampu bermain dan menyiasati sebuah sistem negara, film dengan Matt Damon yang memerankan Bourne ini memandang sebuah pertikaian identitas dalam diri seseorang adalah hal yang jauh dari pesimisme. Dan mungkin ini memang telah diniscayakan dalam banyak film Holywood. Jadi, maaf, kita nikmati saja bagaimana Matt Damon telah menjadi seorang pemenang di film ini, dan penonton tidak perlu membawa pulang kisah sedih tentang keputusasaan. Cukup mengesankan untuk disaksikan seusai jam kerja sebenarnya. :D

Yang saya suka dari film ini--selain karena Matt Damon bermain di dalamnya—adalah cara pengambilan gambar yang sangat aktif. Saya serasa bersama para tokoh diajak berlarian mengejar menyusup, mengintip, menerobos keramain,merasakan ngos-ngosan, mengintai, menatap wajah para lawan bicara, membaca muka dari dekat, mengamati ekspresi mata, merasakan degup kegelisahan para tokoh, dan masih banyak detail kejadian yang demikian dibuat lebih kentara di hadapan saya. Ajakan untuk menatap lebih dekat juga ditunjukkan dengan cara zooming yang bertahap mendekat mulai dari tampilan area (

London

,

Madrid

, Tangier, NY) dari hasil poto udara dari suatu

kota

, yang mengarah  lebih detail hingga ke sebuah ruang tidur, ruang kerja, kantor maupun bandara.

Sisi yang kurang menarik adalah ending yang lumayan bisa ditebak. Seandainya dibuat absurd atau tragis di akhir pun, saya juga ngga mau nerimanya. Jika mau membuat si tokoh mati, sebaiknya pemerannya diganti Brad Pitt atau Tom Cruise aja. :D (maaf ya, mbak Dewi.. ;))

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .